Kota Yogyakarta Alami Deflasi Sebesar 0,09 Persen
Empat kelompok pengeluaran berkontribusi pada deflasi ini.
Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rento Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Turunnya sejumlah barang kebutuhan pada Februari 2016 di kota Yogyakarta membuat kota ini mengalami deflasi 0,09 persen.
Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS DIY, Arjuliwondo mengatakan, pada Februari 2016 empat kelompok pengeluaran mengalami kenaikan angka indeks.
Pengeluaran tersebut adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik 0,25 persen. Berikutnya perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar kelompok kesehatan naik 0,27 persen.
"Sementara kelompok sandang naik 0,72 persen, sedangkan kelompok bahan makanan turun 1,08 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga jasa keuangan turun 0,02 persen. Kemudian kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan turun 0,26 persen," katanya dalam paparan BPS di BPS DIY, Selasa (1/3/2016).
Khusus untuk rokok ini, lanjut Wondo, cukup konsisten berkontribusi pada inflasi setiap bulannya. Hal ini tak lepas dari kenaikan harga rokok yang konsisten."Bisa jadi kenaikan harga ini merupakan satu upaya untuk menekan konsumen rokok.Setiap bulan selalu ada perubahan harga, padahal konsumennya selalu mengkonsumsi dalam jumlah tetap," jelasnya.
Komoditas yang paling mempengaruhi terjadinya inflasi, terangnya, di antaranya adalah kontrak rumah, jeruk, emas perhiasan, sewa rumah dan kacang panjang.
Sedangkan komoditas yang menghambat inflasi adalah bawang merah, tarif listrik, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bensin. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/upah-uang-rupiah_20151016_004455.jpg)