Klaim Miliki Banyak Dalang, Klaten Adakan Wayangan Setiap Sabtu
Dalam setiap acara yang rutin diadakan di alun-alun Kota Klaten itu, akan diisi satu dalang cilik dan dua dalang dewasa.
Penulis: pdg | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Padhang Pranoto
TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Mengklaim diri sebagai kabupaten dengan jumlah dalang wayang kulit terbanyak, Klaten menyelenggarakan wayangan tiap hari Sabtu, selama setahun penuh.
Selain didukung oleh penampil dewasa, pentas ini juga digunakan sebagai ajang unjuk gigi dalang junior.
"Kenapa wayang dipentaskan setiap malam minggu, karena kita ingin membuktikan bahwa Klaten merupakan kabupaten dengan banyak dalang. Ada sekitar 300 dalang wayang kulit," ujar Kepala Disbudparpora Klaten Joko Wiyono, Senin (29/2/2016).
Menurutnya, dalam setiap acara yang rutin diadakan di alun-alun Kota Klaten itu, akan diisi tiga penampil. Mereka terdiri dari satu dalang cilik dan dua dalang dewasa, dalam satu malam.
Adapun, untuk pembiayaannya pemkab menganggarkan Rp 20 juta setiap kali pentas. Jumlah tersebut masih harus dipotong untuk pajak.
"Para Dalang, niyaga (penabuh gamelan) dan sinden tidak terlalu memikirkan tentang pembiayaan. Kedepan harapannya juga ada perhatian dari pihak dirjen pariwisata, kami ingin menunjukan perhatian kami terhadap potensi dalang dan pertunjukan wayang di Klaten. Adapun wayangan itu hanya libur pada saat bulan puasa," ujar Joko.
Terpisah, Pengelola Omah Wayang Kristian Apriyanta mengatakan apresiasinya. Ia berujar, untuk kegiatan wayangan tiap Sabtu tidak terdapat kendala berarti. Namun demikian, menjelang ujian sekolah maupun ujian nasional, frekuensi berlatih dalang anak agak berkurang.
"Untuk volume berlatihnya saja yang agak berkurang, terutama untuk dalang cilik. Hal itu karena memang saat ini menjelang ujian," ujarnya.
Meskipun demikian, hal itu tak lantas membuat semangat anak-anak dalam berpentas menurun.
Ia menjelaskan, di Omah Wayang terdapat setidaknya 20 dalang cilik yang belajar ditempat tersebut. Menyambut program pemerintah itu, setiap hari Sabtu pihaknya mengirimkan satu wakil, untuk pentas wayang dalam waktu satu hingga dua jam.
Namun dengan jadwal acara yang mencapai satu tahun, pihaknya mengaku agak kesulitan dalam pengaturan dalang yang akan tampil. Apriyanta mengatakan, selama setahun penampil akan terus dirotasi.
"Harapan kami juga muncul dalang cilik yang bukan berasal dari kami. Jadi dari Omah Wayang sifatnya hanya memback up," ucapnya.
Disamping itu, pihaknya berharap agar dalam penyelenggaraan pentas wayang kulit digelar bergilir ke setiap kecamatan. Hal itu untuk memeratakan hiburan ke seluruh wilayah. "Kalau boleh juga, pentas tersebut dilakukan di wilayah wisata religi," pungkas Apriyanta. (tribunjogja.com)