Menilik Kampung 'Jeroan' di Klaten
Mulai dari celana dalam untuk balita, pria, wanita, under rok, celana mambo, segitiga dan miniset diproduksi dalam skala rumahan.
Penulis: pdg | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Padhang Pranoto
TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Mulanya tak ada yang spesial dari pekerjaan warga di Dukuh Tempursari, Desa Tempursari, Kecamatan Ngawen-Klaten. Mereka menggeluti usaha konveksi, dengan memroduksi kaus, seragam olahraga atau sekedar nyablon.
Namun pergolakan bisnis menuntut kreatifitas yang akhirnya menahbiskan wilayah tersebut sebagai Kampung CD (Celana Dalam).
Tak berlebihan kiranya status itu disandang oleh kampung yang sebagian besar warganya bekerja sebagai pembuat berbagai rupa "jeroan" tersebut.
Mulai dari celana dalam untuk balita, pria, wanita, under rok, celana mambo, segitiga dan miniset diproduksi dalam skala rumahan.
Munir (60) seorang perajin senior mengungkapkan, usahanya ini bermula dari sebuah industri konveksi rumahan biasa. Dikatakannya, ia mewarisi segala keahlian dari orang tuanya.
"Dulu orang tua saya menggeluti usaha konveksi. Saya sering disuruh-suruh mengerjakan ini dan itu yang berhubungan dengan bisnis tersebut. Mulanya saya tak tahu kegunaannya, namun setelah menikah, ternyata hal itu menjadi keahlian tersendiri, sehingga bisa membuka usaha," ujarnya, Sabtu (27/2/2016).
Dari situ ia terus memperkaya kemampuannya dengan magang di beberapa usaha konveksi milik tetangganya. Setelah trampil, ia kemudian memanfaatkan satu mesin jahit yang dimilikinya untuk berusaha.
Pesanan silih berganti, sampai ia pun bisa membeli beberapa mesin jahit dan merekrut pekerja.
"Ada yang pesan kaus partai, kaus olahraga dan sebagainya. Semua itu turut membesarkan usaha saya. Namun ketika pesanan mulai berkurang, tumbuh pikiran untuk membuat jenis pakaian yang dibutuhkan orang setiap waktu. Saat itulah terpikir membuat celana dalam. Coba dipikirkan, siapa sih yang tidak butuh hal itu. Kalau boleh dibilang, dusun ini memang pembuat CD, dari laki-laki, perempuan hingga balita," kenang Munir.
Sejak tahun 1990 an, ia mulai fokus dengan pembuatan berbagai jenis celana dalam. Namun demikian, jika ada pesanan untuk mengerjakan jenis pakaian lain ia tak menolak.
Menurutnya, di dusun itu ada puluhan hingga ratusan perajin cd. Di Koperasi dusun itu, setidaknya ada 85 anggota yang bergerak dibidang pembuatan pakaian dalam.
Perajin CD lain, Fakhrudin mengatakan hal serupa. Menurutnya, usaha pembuatan pakaian dalam di dusunnya itu telah dimulai turun temurun. Hal itu dimulai dengan pembuatan BH khas wanita Jawa kala.
"Seingat saya sebelum saya lahir di tahun 1967, sudah ada usaha seperti ini," ucapnya.
Dirinya mengutarakan memulai bisnis pada tahun 1996, ia langsung terjun menggeluti konveksi pakaian dalam. Dari modal yang tak begitu besar, dirinya dapat mengembangkan usaha hingga kini mencapai omzet perbulan mencapai Rp 10 juta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/industri-celana-dalam_20160228_001335.jpg)