Gudeg Manggar, Makanan Langka nan Mantap

Sesuai dengan namannya, gudeg ini terbuat dari manggar atau bunga kelapa yang masih muda.

Tayang:
Penulis: Hamim Thohari | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Hamim Thohari

“Biasanya saya masak gudeg pada siang hari hingga sore. Setelah itu gudeg dibiarkan di atas luweng (tungku) semalaman, baru pada pagi harinya dijual,” jelasnya.

Sebagai pendamping gudeg, lauk berupa ayam kampung, dan telur selalu menemani, sambal goreng krecek pun tidak ketinggalan.

Yang sedikit berbeda dalam penyajian gudeg manggar adalah adanya tambahan sambal terasi.

Berubah

Setelah proses pemasakan yang panjang, manggar yang awalnya berwarna kuning berubah menjadi cokelat setelah menjadi gudeg.

Selain bahan bakunya yang spesial, rasa dari gudeg ini pun spesial. Jika gudeg gori teksturnya dominan lembut, maka gudeg manggar teksturnya lebih kasar dan crunchy.

Selain itu, gudeg racikan Bu Seneng ini gurih tidak terlalu manis. Tambahan sambal terasi, membuat rasanya semakin kaya dan nendang.

Meskipun bahan baku manggar cukup sulit didapat, tetapi harga yang dipatok Bu Seneng cukup terjangkau.

Satu porsi nasi gudeg dengan lauk telor, dapat dinikmati hanya dengan Rp.10 ribu. Sedang untuk nasi gudeg ayam harganya antara Rp15 ribu hingga Rp20 ribu.

Karena memiliki rasa yang khas dan istimewa, pesanan juga banyak diterima Bu Seneng.

Untuk dibawa ke luar kota, pelanggan biasanya memesan gudeg kendil. Satu paket gudeg kendel harganya sekitar Rp250 ribu.

“Haraganya cukup mahal, tetapi satu paket gudeg kendel berisikan gudeg manggar 2,5 kilogram dan ayam satu ekor,” tambahnya.

Terbatasnya penjual gudeg manggar karena untuk mendapatkan bahan bakunya bukanlah perkara mudah.

Bu Seneng setiap harinya mendapatkan bahan baku dari empat orang suplier. Untuk mendapatkan manggar, orang yang setiap harinya menyetori harus mencari pohon kelapa yang ditebang.

“Saya tidak hanya membuat gudeg manggar saja, jika ada bahannya saya juga membuat gedug rebung. Bumbu dan proses masaknya hampir sama dengan manggar,” pungkas Bu Seneng.


Tribun Jogja/Hamim Thohari

Setiap harinya warung makan sederhana ini buka dari jam 06.00 pagi hingga 12.00 siang. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved