Periksa Kepadatan Tulang 154 Pasien dalam Sehari, RS Akademik UGM Pecahkan Rekor MURI
Total pasien yang mengikuti pemeriksaan kepadatan tulang dengan Bone Mass Densintometri (BMD) adalah 154 pasien.
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pemeriksaan Kepadatan Tulang dalam sehari yang dilakukan RS Akademik UGM, secara resmi telah tercatat dalam buku Museum Rekor Indonesia (MURI), Sabtu (20/2/2016).
Kegiatan yang dilangsungkan sejak pukul 07.00 WIB hingga 19.00 WIB tersebut, berhasil melampaui target rekor 125 pasien.
Total pasien yang mengikuti pemeriksaan kepadatan tulang dengan Bone Mass Densintometri (BMD) adalah 154 pasien.
Penyerahan sertifikat MURI diberikan kepada Prof dr Arif Faisal selaku pemrakarsa, Prof dr Elisabeth Siti Herini selaku perwakilan manajemen RS UGM, dan perwakilan PT Gratia Jaya Mulya sebagai pendukung pelaksanaan kegiatan.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UGM, Prof Iwan Dwiprahasto, mengaku bangga atas prestasi RS UGM dan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah ikut berpartisipasi.
"Pemecahan Rekor MURI ini, selain merupakan wujud nyata komitment RS Akademik UGM untuk menjadi leading hospital di Indonesia, juga menjadi pemacu bagi seluruh staf untuk selalu meningkatkan mutu secara berkelanjutan untuk pasien dan masyarakat,” ujar Iwan.
Dalam acara tersebut, peserta yang seluruhnya terdiri dari wanita usia 41 hingga 50 tahun itu, kebanyakan berasal dari masyarakat di wilayah sekitar RS Akademik UGM.
Mereka diminta berbaring di tempat yang sudah disediakan, kemudian BMD diletakkan pada bagian yang akan diperiksa. Pemeriksaan berlangsung selama lima menit.
BMD sendiri merupakan alat unggulan yang dimiliki RS Akademik UGM, dengan spesifikasi menilai kekuatan tulang dan mendiagnosis penyakit yang berhubungan dengan kepadatan tulang yang rendah atau osteoporosis.
Alat tersebut telah ditetapkan WHO sebagai Golden Standard dalam pemeriksaan massa tulang.
"BMD ini menggunakan X-Ray dengan radiasi yang sangat kecil. Alat diletakkan di bagian yang diperiksa, nanti muncul di layar komputer untuk mengetahui data pasien. Lebih lanjut, hasilnya dicetak menggunakan kertas film. melalui foto tersebut nantinya dilihat, apakah tulang dalam nilai yang normal atau keropos," jelas Direktur Utama RS Akademik UGM, Prof dr Arif Faisal SpRad(K) DHSM.
Sementara itu, Koordinator kegiatan yakni dr Maya Buwana Sari Asdie SpRad menjelaskan tentang pentingnya melakukan deteksi dini pengeroposan tulang.
"Jenis pemeriksaan tingkat kepadatan tulang ini merupakan satu di antara lima tingkat pencegahan osteoporosis, yaitu tingkat ke tiga, penegakan diagnosa secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat, yang termasuk dalam kelompok pencegahan sekunder," urainya.
faktor risiko utama, lanjut Maya, adalah wanita yang dimulai pada usia premenopouse. pemeriksaan yang dilakukan menggunakan prosedur yang tidak melukai, memiliki efek samping yang kecil, serta dapat mendeteksi dini pengeroposan tulang.
"Deteksi ini cukup dilakukan sekali saja. Kalau dalam pemeriksaan diketahui mengalami osteoporosis, maka harus dilakukan terapi. Cara mencegah pengeroposan tulang adalah dengan banyak mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung kasium tinggi serta berjemur di bawah sinar matahari pagi yang cukup," tandas wanita yang juga menjabat sebagai Kepala Instalasi Radiologi RS Akademik UGM. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/rsa-ugm-muri_20160222_082312.jpg)