Bisnis Bilik Cinta dari Sarkem, Kalijodo hingga Sonagachi

Sekalipun dianggap kelas bawah, kawasan prostitusi Sarkem punya daya tarik juga bagi mereka yang punya uang.

Tayang:
Editor: Iwan Al Khasni
barcroft.tv | Tribunnews
Kolase foto kondisi rumah bordil KaliJodo dan Sonagachi India 

Dunia esek-esek rasanya tak pernah habis dikupas dan diselami, jika di Jakarta sedang sibuk dengan penggusuran kawasan prostitusi KaliJodo, Jogja juga punya cerita kompleks serupa, Pasar Kembang (Sarkem).

SERUPA begitulah gambaran kompleks Sarkem Jogja dengan Kali Jodo, Jakarta. Rumah kecil, warung remang-remang plus "bilik cinta" bersekat dinding triplek pada umumnya.

Catatan Tribun Jogja, esek-esek di kawasan Pasar Kembang masih eksis dengan semua keunikannya.

Apalagi komplek esek-esek itu berdampingan dengan kawasan hunian turis kelas tas ransel (backpacker), pusat bisnis dan wisata yang sibuk, serta stasiun kereta yang ramai.

Konsumen di lokalisasi ini secara umum, mereka pria dewasa yang berkantong tipis tapi ingin menyalurkan hasrat seksualya secara bebas.

Sekalipun dianggap kelas bawah, kawasan prostitusi Sarkem punya daya tarik juga bagi mereka yang punya uang.

Sebab pada kenyataanya, tak hanya warga kelas bawah yang gemar berselancar di lokasi ini, kelas mahasiswa pun tak malu-malu berkunjung.

Suasana di Sarkem memang khas. Tempatnya ada di perkampungan padat, banyak lorong gang sempit hampir menyerupai labirin.

Jika tiba jam edar, para pekerja seks tua muda nongkrong secara menyolok di pinggir-pinggir gang atau di depan pintu ruang servis mereka.

Rata-rata mereka berani, dan tak sungkan menawarkan diri. Bahasa percakapan mereka juga tak tedeng aling-aling.

"Yuk main mas? Atau mau yang mana? Seperti apa? Coba lihat dulu ke dalam," sapa mereka di labirin gang Sarkem.

Begitu pula Kali Jodo sebelum rencana pengusuran, bau pengap langsung tercium begitu masuk kamar-kamar yang semula jadi tempat melepas syahwat.

Bilik-bilik dengan luas sekitar 2 x 1 meter atau 2 x 2 meter persegi, Fasilitasnya hanya kasur di lantai, bantal, lemari kecil, dan lantai beralas karpet.


Kompas.com | Robertus Belarminus | Kamar atau bilik cinta di kafe plus-plus di Kalijodo, Jakarta Utara, gelap, pengap serta berbau.

Ada pula yang punya tempat tidur dengan kolong berserakan penuh barang. Hanya satu dua ruangan yang punya kipas angin sebagai penyejuk ruangan.

Bisnis kelas bawah pada dasarnya tak hanya ada di Indonesia, bisnis itu bagian tak terpisahkan dihampir seluruh kota yang ada di dunia. Ada yang terang-terangan, tak sedikit pula yang menjalankan bisnis itu secara diam-diam.

Yang terkenal di dunia yaitu di kawasan red light alias pemukiman yang didominasi rumah bordil terbesar di Asia.

Kawasan itu adalah Sonagachi yang berada di Kolkata, India, daerah yang dibanjiri ratusan rumah bordil dengan model rusun (rumah susun).

Ya, Kolkata memang terkenal mendapatkan julukan sebagai The City of Joy, tentu tak terlepas dari novel karya Dominique Lapierre yang ditulis pada 1985.


Seorang pekerja seks merokok sebatang rokok sambil duduk di balkon rumah bordil. | Sujatro Ghost | barcroft India via Dailymail.co.uk

Disana (Sonagachi) ada lebih kurang 14.000 pekerja seks yang berasal dari seluruh dunia, bekerja siang hingga malam menjalankan profesi sebagai pelayan seks.

Foto-foto kehidupan di kompleks rumah bordil terbesar di asia itu sempat diungkap laman barcroft.tv. KLIK DISINI kisah selengkapnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved