Khasiat Semut Jepang Belum Teruji Secara Ilmiah

Baru-baru ini beredar viral di dunia maya bahwa semut Jepang mengandung bakteri yang berbahaya bila terus menerus dikonsumsi.

Penulis: pdg | Editor: oda
gudangkesehatan.com
ilustrasi semut jepang 

TRIBUNJOGJA.COM - Baru-baru ini beredar viral di dunia maya bahwa semut Jepang mengandung bakteri yang berbahaya bila terus menerus dikonsumsi.

Padahal selama ini, semut tersebut dipercaya memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan.

Salah satunya disampaikan oleh Facebooker Agus Zumalingga yang mempertanyakan kebenaran berita soal semut Jepang.

Ia memposting screen shot broadcast yang berisi seorang ibu-ibu telah dioperasi karena ususnya terinfeksi bakteri semut tersebut.

Ibu-ibu yang dikabarkan berasal dari Magelang itu mengkonsumsi semut Jepang selama setahun untuk mengobati diabetes. Namun ia mengalami diare dan perut membesar sehingga harus dioperasi.

Setelah dioperasi, ternyata usus itu sudah bernanah.

Sejumlah netizen tak percaya dengan pesan tersebut. Salah satunya akun Indra Hermawan yang menganggapnya sebagai berita bohong.

"Itu tidak valid. Tidak masalah asalkan tak berlebihan," tulisnya dalam sebuah grup komunitas semut Jepang.

Pengguna Facebook lain, Antonius Sigit mengatakan bila broadcast itu sengaja dibuat untuk keperluan marketing.

Lalu, apakah benar semut Jepang memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan? Bagaimana dengan bakteri yang dikandungnya?

Dari penelusuran Tribun Jogja, belum ada ahli yang pernah meneliti khasiat semut Jepang bagi kesehatan. Ini dibenarkan oleh dosen Fakultas Kedokteran UGM, dr. Bowo Pramono.

Semut Jepang yang sering dikaitkan dengan penyembuhan diabetes menurutnya karena semut ini menimbulkan rasa mual dan muntah saat dikonsumsi sehingga dapat menurunkan kadar gula dalam darah.

"Mungkin ini yang dipahami dalam terapi semut Jepang," paparnya di laman resmi UGM.

Terkait dengan usus bernanah, dr. Bowo mengatakan harus dilakukan penelitian terlebih dahulu apakah memang karena bakteri semut atau bukan. Bisa jadi usus tersebut sudah rusak sebelum mengkonsumsi semut.

Ia pun menyarankan agar masyarakat berhati-hati untuk pengobatan herbal. Boleh saja katanya, asalkan pengobatan itu sudah terbukti secara ilmiah manfaatnya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved