Industri Kerajinan Daerah Masih Seperti Tukang Jahit Saja

industri kerajinan juga dipandang bisa membawa Indonesia sebagai basis produksi di tingkat dunia.

Laporan Reporter Tribun Jogja, Singgih Wahyu Nugraha

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sektor usaha kerajinan (craft) menjadi satu di antara fokus utama Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) pada tahun ini.

Selain kontribusinya terhadap ekspor masih kecil, industri kerajinan juga dipandang bisa membawa Indonesia sebagai basis produksi di tingkat dunia.

Data AMKRI menyebutkan, pada 2015 lalu nilai ekspor craft dan furniture secara nasional mencapai USD2 miliar atau hanya naik sekian juta dolar dari posisi sebelumnya di 2014 sebesar sekitar USD1,3 miliar.

Kebanyakan produk craft terserap untuk pasar Amerika Serikat, Asia, Timur Tengah, dan Eropa Timur.

Sementara produk mebel banyak diminati negara di Eropa Barat, Amerika Serikat, dan sebagian Asia.

Nilai total ekspor craft dan furnitur itu menurut AMKRI masih lebih rendah dari ekspor Vietnam yang mencapai USD4 miliar.

Adapun dari nilai ekspor 2015 itu, produk kerajinan hanya menyumbang porsi sekitar USD800 juta saja.

Kepala Bidang Aneka Kerajinan, Dewan Pimpinan Nasional AMKRI, Hiero Prabantoro mengatakan, meski Yogyakarta termasuk penghasil kerajinan terbaik di Indonesia, statusnya saat ini boleh dibilang hanya sekadar pemasok produksi untuk daerah lain.

Pengusaha asal Yogyakarta ini mencontohkan, produk jam kayu yang kondang dan cukup bernilai mahal di Bandung sebetulnya justru diproduksi di Yogyakarta.

"Kita masih jadi tukang jahit untuk produk kerajinan daerah lain. Ini yang ingin kami angkat ke depannya supaya pengrajin kita tidak hanya jadi buruh. Potensi kerajinan Yogyakarta bisa disetarakan besar melalui branding yang tepat," kata Hiero di Yogyakarta, Jumat (12/2/2016).

Menurutnya, ada lima hal utama yang perlu diperhatikan untuk mendorong produk kerajinan Yogyakarta bisa lebih maju dan berdaya saing.

Yakni, desain yang hebat, exotic material atau material yang khas dan tidak mudah ditiru, penggunaan high technology, serta craftmenship yang kuat untuk assembling dan finishing touch.

"Itu semua kalau bisa digabungkan bisa menghasilkan produk yang tidak kalah tanding. Soal teknologi, saya kira pengrajin kita sudah cukup mampu," kata dia.

Persoalan yang menyelimuti dunia industri kerajinan itu nantinya menjadi pembahasan dalam Seminar Kerajinan Nasional yang akan digelar AMKRI DIY pada 16 Februari 2016 di Sahid Rich Jogja Hotel.

AMKRI berharap dari seminar tersebut bisa tersusun roadmap kriya nusantara untuk mendongkrak pertumbuhan industri kerajinan Indonesia. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved