Industri Kerajinan Daerah Masih Perlu Digenjot Lagi

AMKRI sendiri pada tahun ini menargetkan bisa mendorong perrtumbuhan ekspor nasional itu hingga nilai USD5 miliar.

Laporan Reporter Tribun Jogja, Singgih Wahyu Nugraha

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ketua DPD AMKRI DIY, Heru Prasetyo, mengatakan bahwa industri produk kerajinan nasional, terutama di Yogyakarta, harus digenjot lebih keras lagi.

AMKRI sendiri pada tahun ini menargetkan bisa mendorong perrtumbuhan ekspor nasional itu hingga nilai USD5 miliar.

Hal itu tentunya butuh perjuangan ekstra keras dengan dukungan dari berbagai stakeholder, termasuk pemerintah.

"Ini memang berat, perlu usaha keras. Perajin di daerah juga harus mempersiapkan program-program yang bisa mendorong tercapainya target tersebut," kata Heru, Jumat (12/2/2016).

Data AMKRI menyebutkan, pada 2015 lalu nilai ekspor craft dan furniture secara nasional mencapai USD2 miliar atau hanya naik sekian juta dolar dari posisi sebelumnya di 2014 sebesar sekitar USD1,3 miliar.

Kebanyakan produk craft terserap untuk pasar Amerika Serikat, Asia, Timur Tengah, dan Eropa Timur. Sementara produk mebel banyak diminati negara di Eropa Barat, Amerika Serikat, dan sebagian Asia.

Nilai total ekspor craft dan furnitur itu menurut AMKRI masih lebih rendah dari ekspor Vietnam yang mencapai USD4 miliar.

Adapun dari nilai ekspor 2015 itu, produk kerajinan hanya menyumbang porsi sekitar USD800 juta saja.

Disebutkan Heru, para pengusaha dan pengrajin produk kerajinan di daerah, termasuk Yogyakarta, sebenarnya juga menginginkan pertumbuhan lebih kencang dari usaha yang dijalankan.

Untuk itu, pihaknya menilai perlu ada perubahan mindset yang di antaranya mencakup persoalan nilai jual produk.

Pasar secara umum sejauh ini masih melihat produk-produk kerajinan daerah seperti Yogyakarta sebagai barang yang bernilai jual murah atau rendah.

Padahal, ketika produk itu dibeli buyer dari luar negeri, nilai jualnya sudah meningkat lebih mahal hingga lima kali lipat dengan finishing ulang.

Penilaian tenang produk bernilai murah ini dinilainya sebagai pandangan yang keliru dan harus diubah supaya tidak merugikan pengrajin daerah.

Kuncinya, lanjut Heru, terletak pada upaya menciptakan good design (desain yang bagus), good product (produk unggul), dan good market (pemasaran tepat).

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved