Menyusuri Pusat Tenun Tradisional di Sleman

Berkat dorongan dan pemberdayaan oleh komunitas bernama Dreamdelion, Sumirah memproduksi stagen berwarna-warni dan motif yang unik.

Penulis: Hamim Thohari | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Hamim Thohari
Leginem saat menenun stagen 

Setelah disekir, setiap helai benang yang ditata dimasukan ke mesin tenun satu persatu. Setelah itu, proses penenunan siap dilakukan.

Dalam sehari Sumirah, mampu menghasilkan kain tenun sepanjang 15 hingga 20 meter dengan lebar 14,5 sentimeter.

“Sebagian besar ibu-ibu di sini membuat tenun disambi pekerjaan rumah tangga lainnya. Jika fokus mengerjakannya dalam sehari kami bisa menghasilkan sekitar 30 meter kain tenun,” lanjutnya.


Tribun Jogja/Hamim Thohari
Sumirah menunjukan kerajinan yang diproduksinya

Tas dan Bros

Jika stagen polos hanya digunakan sebagai ikat pinggang, maka untuk stagen bermotif ini banyak dipasarkan oleh Dreamdelion untuk diproduksi menjadi tas, bros, dompet, bahkan sepatu.

Di sela-sela kegiatannya menenun Sumirah juga menerima pesanan membuat tas dan bros.

Sedang untuk stagen polos produk ini dibeli oleh pengepul dan dijual dibeberapa pasar tradisional yang ada di Yogyakarta.


Tribun Jogja/Hamim Thohari
Beragam kerajinan dari kain tenun

Meskipun proses pembuatanya rumit, stagen produksi Sumirah dan Leginem cukup murah. Untuk satu buah stagen polos dengan panjang sekitar 9,5 meter harganya hanya Rp17 ribu hingga Rp20 ribu.

Sedang untuk stagen motif harga per meternya Rp15 ribu hingga Rp20 ribu. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved