Penyakit Pasca Banjir Mengintai

Dinkes Klaten mengaku tidak bisa melangkah sendiri. Herry menjelaskan, perlu kerjasama dinasnya dengan DPU ESDM dan PDAM guna mengatasi hal tersebut

Penulis: pdg | Editor: oda
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Padhang Pranoto

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten meminta masyarakat mewaspadai penyakit pasca banjir. Seperti diketahui, beberapa desa di empat kecamatan di Kabupaten Bersinar, sempat terendam luapan air pada hari Selasa (2/2) lalu.

"Yang menjadi perhatian justru pada pasca banjir, karena terdapat berbagai macam tumpukan sampah organik yang mengundang lalat dan berbagai sumber penyakit lain. Untuk menanggulangi hal tersebut kami sudah melakukan survey cepat pada daerah terimbas," ujar Kabid Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Dinkes Klaten Herry Martanto, akhir pekan lalu.

Adapun, penyakit yang perlu diwaspadai pasca banjir diantaranya diare, penyakit kulit dan leptospirosis.

Dikatakannya, pihaknya telah melakukan prosedur rapid health assesment (RHA), pada daerah yang tergenang banjir. Diantaranya pada Desa Kalikebo, Gaden, Planggu, Wiro dan Bawak. Hal itu dilakukan untuk mengetahui apakah ada warga yang terserang penyakit.

"Sampai detik ini belum ada laporan yang detil. Tapi untuk posko-posko di Polindes maupun di puskesmas tetap kita siagakan diwilayah-wilayah tersebut," ujarnya.

Sementara itu, terkait adanya kemungkinan pencemaran air konsumsi pasca banjir, Dinkes Klaten mengaku tidak bisa melangkah sendiri. Herry menjelaskan, perlu kerjasama dinasnya dengan DPU ESDM dan PDAM guna mengatasi hal tersebut.

Adapun, kewenangan dinas kesehatan sebatas menanggulangi menyerang warga karena pencemaran air.

Catatan Dinkes, selepas banjir belum ditemukan laporan akan adanya penyakit seperti diare. Namun pada 2015, ada ribuan warga Klaten yang terserang penyakit tersebut.

"Hingga saat ini belum ada temuan. Namun berdasarkan catatan kami, ada tren penurunan. Pada 2014 silam kami mencatat ada sekitar 36.519 warga yang terserang diare. Sementara 2015 cenderung menurun menjadi 35.019 warga," ujar Kasi P2B2 Dinkes Klaten Wahyuning Nugrahaeni.

Sementara untuk penderita diare usia balita, tercatat 11.498 di tahun 2015 dan 12.778 di tahun 2014.

Meskipun demikian, pihaknya mewanti-wanti akan persebaran diare dikala musim penghujan. Oleh karenanya, ia meminta pihaknya untuk menjaga kebersihan makanan dan membiasakan cuci tangan.

Disamping itu, dirinya pun menekankan untuk buang air besar pada tempatnya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved