Putih Abu abu
Pacaran di Usia Remaja, Penting Nggak Sih?
Bersolek, mencari jati diri, rasa ingin tahu yang besar dan tertarik dengan lawan jenis, adalah hal lumrah yang mengiringi kehidupan remaja.
TRIBUNJOGJA.COM - Masa remaja adalah saat di mana manusia menjalani fase baru di dalam hidupnya. Fisiologis dan psikis berubah sesuai perkembangan.
Bersolek, mencari jati diri, rasa ingin tahu yang besar dan tertarik dengan lawan jenis, adalah hal lumrah yang mengiringi.
Pacar, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia daring berarti teman lawan jenis yang tetap berdasarkan cinta kasih/kekasih. Masa inipun kerap dialami para pelajar.
Tapi tetap ada pro/kontra terkait pacaran. Tentu saja tentang efek negatif yang menyertai. Nah, apa sih pendapat teman-teman soal pacaran?
Bagi dua sahabat, Deny Putra (17) dan Archan Julian (16), pacaran saat masih bersekolah itu sia- sia. "Pacaran itu cuma membuang waktu. Yang seharusnya kita belajar dan menata masa depan malah terbuang untuk pacaran," ujar Deny diamini Archan.
Pacaran pasti bukan cerita asing bagi remaja. Berbagai hiburan kerap bermuatan alur percintaan. Tapi hal itu tak berlaku bagi Devi Herindah Sari (16).
"Pacaran itu bukannya belum perlu, memang tidak perlu. Walaupun cuma SMS tapi kan sayang-sayangan. Cuma ketemu biasa tapi hanya ada dua orang dan yang ketiga adalah syaitan," tutur siswi SMAN 2 Banguntapan ini.
Mengenai argumen bahwa pacara bisa menambah motivasi belajar, Devi punya pandangan lain. Karena banyak cara lain untuk meningkatkan motivasi. Bisa dari keluarga, teman, sahabat, guru dan lainnya. Tapi yang terpenting adalah dari diri sendiri.
Menikmati waktu luang dengan orang tersayang pastilah menyenangkan. Mulai sekedar curhat sampai bercerita tentang masa depan.
Obrolan seperti itu atau bahkan tentang karya yang inovatif sering diperbincangkan banyak anak muda. Tapi, bagaimana jika dengan pacar?
Sinta Herningtiyas berbagi kisah. Ia belum kepikiran menjalin hubungan kekasih. Selain akan lebih fokus dalam belajar dan mengejar masa depan, pertemanan pun menjadi lebih luas. kolah seperti berorganisasi pun juga bisa diikuti.
"Single itu bisa selangkah lebih maju dari mereka yang pacaran. Karena mereka sibuk dengan pacarnya sampai kadang lupa belajar," ucap siswi SMAN 1 Kasihan ini.
Jatuh cinta adalah naluri alamiah yang akan muncul pada manusia. Kebanyakan orang merasakannya di usia remaja. Tapi pendapat publik menganggap seorang remaja tidak seharusnya menjalin hubungan cinta dengan lawan jenis atas beberapa alasan.
Misal, remaja seharusnya fokus belajar untuk menentukan masa depan. Atau emosi yang labil bisa menyebabkan hal-hal negatif ketika berpacaran.
"Mau pacaran atau enggak itu terserah. Tapi aku lebih milih sekedar jadi temen deket aja, soalnya kalau pacaran itu terlalu serius. Nanti kalau punya pacar takutnya kebanyakan main di luar bukannya belajar. Padahal sekarang adalah masa untuk menentukan masa depan kita," jelas Zuhro Lutfi siswa SMKN 3 Yogyakarta.
Menurut Zuhro, berteman saja sudah cukup. Selain agar bisa fokus belajar, dengan bergaul ke semua teman tanpa memilih siapa yang lebih spesial adalah hal yang lebih menyenangkan saat ini. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-pacaran_20160201_124048.jpg)