Pameran Bersama “Homo Barbarus”
Galeri yang terletak di dusun Candirejo, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman ini menampilkan pameran bertajuk “Homo Barbarus” karya tiga seniman muda.
Penulis: rap | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Riezky Andika Pradana
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Untuk ketiga kalinya Wangi Artroom, sebuah ruang seni paling utara di Yogyakarta menggelar pameran.
Galeri yang terletak di dusun Candirejo, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman ini menampilkan pameran bertajuk “Homo Barbarus” karya tiga seniman muda yaitu, Anton Yuniasmono, Reza D. Pahlevi, dan Himaya Sodhi.
Menurut Jimi Mahardikka sebagai pemilik Wangi Artroom, tema tersebut merupakan kerja kuratorial Wangi yaitu G. Marhaendra dan para seniman tentang dominasi.
Dominasi dipandang sebagai strategi untuk mempertahankan keberlangsungan hidup. Mereka yang dominan berusaha melegitimasikan kemanusiaan dalam ruang norma dan etiknya sendiri.
Di satu sisi muncul superioritas kemanusiaan dalam wajah agama, bangsa, komunitas, nilai tukar uang bahkan dalam sosok raja, ketua RW, dan ayah atau ibu dalam patron keluarga.
Himaya Sodhi adalah sosok lelaki 30 tahun yang dikenal menggeluti ilustrasi sebagai bentuk ekspresi berkeseniannya. Baginya drawing saat ini merupakan pilihan yang disukainya karena kedekatan medium dan kuasa control atas mediumnya.
Beberapa kali kecenderungan ilustratif mewarnai perjalanan berkeseniannya. Seperti dua rekan lainnya, Ia adalah produk otodidak, yang tidak pernah mengenal sistem pendidikan berkesenian formal.
Namun justru karena demikian lah, menurut Jimi, karya ilustrasi Odhi, demikian ia biasa dipanggil, lebih terasa personal dan bebas.
Pada karyanya berjudul ‘Normal Absurdity’ bercerita tentang bagaimana Himaya Sodhi menyikapi keseragaman aksi yang dimaklumi di tengah masyarakat.
Bagaimana dominasi ide yang disepakati bersama saling mempengaruhi individu lain, dari mulai cara kita mencintai, berkomunikasi, hingga beragama. Di sini terbersit pemikiran bahwa kebebasan yang hakiki adalah semu, semuanya terjerat ide-ide yang disepakati bersama.
Anton Yuniasmono adalah sosok yang memulai aktivitas berkeseniannya dalam dunia teater. Keterlibatannya dalam seni panggung ini menjadi modal yang mempengaruhi pilihan rupanya.
Pengaruh ini muncul dalam Bentuk sosok yang realis meski digubahnya dalam metode yang berlaku dalam street art yang cenderung lugas menampilkan pesan, warna dan goresan.
Kekuatan komunikatif semacam ini lumrah apabila menilik latar belakang pendidikannya yang pernah mengenyam studi komunikasi. Baginya, cara berkomunikasi street artadalah medium ungkapan terbaik yang dapat merepresentasikan ide dan gagasan.
Tema besar yang ia angkat adalah dominasi militer. Anton mengingat bahwa buku sejarah yang disuguhkan dalam kurikulum SD-SMA selalu berbicara tentang militer.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pemeran-lukisan_20160131_153852.jpg)