Pengungsi Gafatar Bingung Cari Tempat Tinggal

atusan warga eks Gafatar asal DIY tiba di penampungan sementara kompleks Youth Center, Mlati, Jumat (29/1/2016).

Penulis: ang | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Khaerur Reza
236 warga eks Gafatar asal DIY akhirnya tiba di Youth Centre Sleman, Jumat (29/1/2016) sekitar pukul 15.20 WIB. 

Laporan reporter Tribun Jogja, Angga Purnama

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Ratusan warga eks Gafatar asal DIY tiba di penampungan sementara kompleks Youth Center, Mlati, Jumat (29/1/2016).

Kedatangan gelombang pengungsi itu menandai kegiatan pendampingan yang dilakukan Pemda DIY untuk memulihkan kondisi warga eks Gafatar tersebut.

Dari identifikasi Dinas Sosial (Dinsos) DIY, total warga DIY yang ditampung sementara di fasilitas milik Badan Pemuda dan Olahraga (BPO) DIY itu sebanyak 236 orang.

Jumlah tersebut berbeda dengan informasi awal yakni sebanyak 338 orang yang berada di penampungan Asrama Haji Donohudan, Boyolali.

Pantauan tribunjogja.com, rombongan tim penjemputan tiba dengan lima armada bus dan satu truk sekitar pukul 15.00.

Petugas tim pendampingan langsung mengelompokkan warga sesuai dengan kabupaten/kota asal.

Dibalik kepulangan warga eks Gafatar, tersimpan sejumlah kisah pilu yang harus ditanggung oleh warga.

Bagaimana tidak, sebagaian pengungsi telah menjual aset yang dimilikinya di kampung halamannya (DIY) untuk eksodus mengikuti program dari organisasi massa itu.

Seperti yang dialami Misran (50) warga Turi, Sleman.

Setelah dijemput untuk kembali pulang, ia dan keluarganya justru kebingungan untuk tinggal di mana lagi.

Hal ini dikarenakan aset berupa rumah telah dijual untuk modal ‘bertransmigrasi’.

“Rumah dan tanah sudah dijual, sekarang bingung mau bagaimana,” ungkapnya ketika ditemui wartawan sesaat setelah turun dari bus penjemput.

Ia mengatakan kini harapannya berada pada pemerintah. Pasalnya kepulangannya hanya mengikuti instruksi dari pemerintah.

“Saya sekeluarga ngikut saja,” ujarnya sembari masuk ke dalam penampungan.

Tak banyak informasi yang dapat digali dari para warga eks Gafatar. Hal ini lantaran wartawan yang meliput tidak diizinkan terlalu lama berada di barak penampungan. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved