Kakek 83 Tahun Ini Masih Jadi Perajin Barongsai

Kardus bekas, koran, kertas kantong semen yang dia beli dari pemulung, kemudian dapat dia ramu sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah karya seni.

Penulis: una | Editor: oda
tribunjogja/ronarizkhybunga
M.Doel Wahab seorang perajin barongsai dan naga yang terbuat dari kertas. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rona Rizkhy Bunga Chasan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - M.Doel Wahab seorang perajin barongsai dan naga yang terbuat dari kertas. Kesenangannya akan kesenian Cina tumbuh sejak usianya baru menginjak tujuh tahun.

Di usia yang belia tersebut, seorang kakek yang akrab dipanggil Mbah Doel ini, sering mengisi waktu sorenya untuk bermain di kantor kesenian Cina, Hoo Hap.

"Sejak usia tujuh tahun, kalau sore hari saya main ke kantor Hoo Hap (kantor kesenian Cina) naga liong dan barongsai. Sejak itu, muncul dalam pikiran dan hati saya untuk menghayati kesenian Cina tersebut," Ujar Mbah Doel.

Namun, kala itu hanyalah suatu rencana yang belum bisa diwujudkan. Kesibukannya di sekolah kemudian bekerja membuatnya tak bisa meluangkan waktu. Hingga saat pensiunnya tiba, muncullah kembali keinginannya melestarikan kesenian Cina yang sempat tertunda.

Pada tahun 1991, di masa pensiunnya, Mbah Doel kemudian memilih berkegiatan membuat barongsai dan naga dari bahan-bahan sederhana.

Kardus bekas, koran, kertas kantong semen yang dia beli dari pemulung, kemudian dapat dia ramu sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah karya seni yang bernilai.

Ditambahi dengan aksesoris, bulu-bulu halus, yang dia beli dari Semarang, Mbah Doel pun membuat karya seni yang sangat apik. Barongsai buatannya dibandrol seharga Rp 80 ribu sedangkan naga liong karyanya dihargai Rp 300 ribu.

Ketika menjelang Imlek, Mbah Doel setidaknya sudah mencicil mempersiapkan segala keperluan untuk membuat barongsai dan naga liong dalam jumlah yang lebih dari biasanya.

Setidaknya persiapan tersebut sudah dia lakukan dalam jangka waktu dua bulan sebelum Imlek tiba. Beberapa pemesan pun mulai berdatangan ke rumah Mbah Doel menjelang Imlek.

Namun apa daya, walaupun banyak peminat, diusianya yang menginjak 83 tahun, tak banyak pesanan yang dapat dia terima. Di musim Imlek biasanya Mbah Doel bisa menerima pesanan sejumlah 20 barongsai dan 2 naga yang memiliki panjang 3 meter.

"Pesanan banyak, tapi saya kurang tenaga. Usia saya sekarang sudah 83 tahun, jadi tenaga saya sudah tidak seperti dulu. Tapi saya tetap senang dengan barongsai bahkan saya membuat grup naga barongsai yang diberi nama Isakuiki," ucapnya.

Keahlian yang dia dapatkan secara otodidak tersebut sangat disayangkan jika tidak diturunkan kepada orang-orang terdekatnya.

Keinginan untuk menurunkan keahlian tersebut tentunya ada dalam diri Mbah Doel namun menurutnya, untuk saat ini belum ada keturunannya yang berniat untuk menurunkan keahlian ayahnya.

"Keinginan ada, tapi anak sepertinya tidak menyukai dan tidak ada yang mau membuat seperti ini. Untuk melakukan semua ini harus ada rasa senang terlebih dahulu. Karena saya suka, ya mau laku atau tidak, saya tetap suka. Apalagi, saya sangat suka ketika melihat barongsai saya gantungkan di depan warung dan terkena semilir angin. Rasanya saya sangat suka melihatnya," pungkas Mbah Doel.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved