Kisah Mbah Suhartono, Penjual Tas Bekas Karung Terigu di Beringharjo
Di usianya yang 83 tahun, Mbah Suhartono terus menjaga nyala semangat berdagangnya.
HAWA panas yang meruap di Pasar Beringharjo tak menyurutkan semangat Suhartono (83) untuk mengais rezeki halal. Di sela-sela waktu melayani pembeli, bakul tas dan sarung bantal bekas kantong terigu itu bertutur tak ingat sejak kapan ia berjualan.
Meski demikian, simbah yang sudah sangat sepuh ini masih ingat masa-masa suram ketika ia dipaksa mengungsi ke Semarang saat pecah gegeran bernuansa etnis. Ia pun bekerja di sebuah pabrik becak di kota itu.
Di usianya yang 83 tahun, Mbah Suhartono terus menjaga nyala semangat berdagangnya.
"Wah, pokoknya sudah lama banget, enggak ingat saya" ujar Mbah Suhartono saat ditanya sejak kapan ia berjualan sarung bantal bekas kantong terigu.
Ditemui Tribun di Pasar Beringharjo, Senin (18/1), pria kelahiran Yogyakarta pada 1932 tersebut mengaku masih kuat berjualan mulai pukul 7 pagi hingga 5 sore. Titik jualannya ada di pintu selatan paling barat pasar terbesar di kota ini.
"Alhamdulillah, ada yang mau ngasih tempat di sini, walaupun cuma ngemper (teras)," ungkap pria yang memiliki nama Tionghoa Tan Heng Ki.
Adapun setiap harinya, ia membawa 250 buah tas maupun sarung bantal. Barang itu dibawanya menggunakan troli kecil yang ditarik dari rumahnya di daerah Pajeksan, Malioboro. Tas maupun sarung bantal tersebut dijual Rp 15 ribu per satuan.
"Barang dagangannya ini titipan orang, saya enggak ngerti asalnya dari mana," ujar Mbah Suhartono yang mengaku saat ini tinggal bersama anak kedua dan cucunya di Pajeksan.
Selalu menjaga semangat rupanya jadi kunci mengapa Mbah Suhartono tetap awet usianya. Sudah banyak orang yang menyarankannya untuk berhenti dan istirahat saja di rumah.
"Kalau nggak kerja, bisa sakit pikiran malah stres, Semua sudah kehendak yang kuasa. Semua (dunia) ini milik yang kuasa. Ya mau tidak mau harus terus bekerja biar enggak pusing," tandasnya.

Suhartono, penjual tas dari bekas karung terigu di Pasar Beringharjo (TRIBUNJOGJA.com | Ikrar Gilang Rabbani)
"Kalau berhenti bekerja malah sakit pikiran, lalu bisa pikun" ujar Suhartono yang mengaku penghasilannya tidak menentu namun tetap mensyukuri segala sesuatu yang dialaminya.
Sosok Mbah Suhartono "ngehits" ketika ada ada netizen memposting fotonya yang tampak bergitu ringkih, tengah berjualan sarung bantal cap Segitiga atau Gunung Bromo di Pasar Beringharjo. Foto itu beredar viral di media sosial.
Foto yang tampak humanis itu mendorong beberapa netizen menggalang gerakan simpatik di media sosial untuk membantu Mbah Suhartono.
Gerakan yang dilakukan oleh komunitas "Share If You Care" adalah menampung para netizen yang hendak membantu Suhartono dengan cara membeli dagangannya.
Tri Wahyuni, anggota komunitas tersebut secara sukarela menjadi pembeli barang dagangan Mbah Suhartono, pesanan para netizen di jaringannya yang hendak membantu.
Sehingga kegiatan simpatik para netizen ini diharapkan mampu membantu Suhartono dengan cara yang wajar, yakni melariskan dagangannya.
Efeknya, barang dagangan Suhartono beberapa waktu belakangan laris manis.
Pernah pula ada yang membeli hingga 100 buah. Banyak pengunjung Beringharjo yang membeli barang dagangannya, maupun sekedar memberi bantuan berupa bingkisan.
Menurut sejumlah pedagang kain, batik, dan pakaian di sekitar lokasi Mbah Suhartono berjualan di Pasar Beringharjo, ada saja pengunjung pasar yang datang, memfoto Mbah Suhartono saat tengah berjualan.
Satu hal utama dari apa yang dilakoni Mbah Suhartono ini adalah semangat tak pernah padam hingga senja usia. Tetap bekerja, mengais rezeki halal, di tengah kemerosotan moral begitu hebat di negeri ini.(TRIBUNJOGJA.com/Ikrar Gilang Rabbani)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/penjual-tas-karung-terigu_1901_1_20160119_105457.jpg)