REI Optimis Sektor Properti Kembali Bergairah

Sempat mengalami dampak perlambatan ekonomi pada 2015, DPD Real Estat Indonesia (REI) DIY optimis sektor properti bisa menggeliat lagi.

Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: Ikrob Didik Irawan

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rento Ari Nugroho

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sempat mengalami dampak perlambatan ekonomi pada 2015, DPD Real Estat Indonesia (REI) DIY optimis sektor properti bisa menggeliat lagi.

Optimisme ini berkaca pada target yang ditetapkan pemerintah, serta mulai bergeraknya kembali pengembang rumah murah di DIY.

Ketua DPD REI DIY, Andi Wijayanto mengatakan, satu cerminan kondisi sektor properti bisa dilihat dari jumlah anggota REI. Sebelum 2014, jumlah anggota REI DIY sebanyak 154 pengembang.

Jumlah tersebut bergerak turun menjadi 110 pada 2014. Sementara pada 2015 tercatat jumlahnya kembali turun menjadi 101 pengembang.

"Jumlah yang turun ini bisa karena beberapa hal. Yang pertama adalah tidak adanya proyek baru sehingga pengembang hanya menghabiskan stok yang sudah ada. Kemudian, karena tidak adanya proyek baru itu, mereka tidak registrasi ulang. Sebab, satu dari beberapa syarat membuka proyek baru adalah registrasi ulang," kata Andi, Minggu (17/1/2016).

Andi mengungkapkan, menyambut 2016 ini pihaknya optimis sektor properti bisa bergairah kembali.

Hal itu menurutnya mulai ditandai dengan optimisme pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen.

"Tentu ini ada dasarnya. Dari data kami 55 persen penopang Product Domestic Bruto (PDB) adalah 55 persen dari rumah tangga dan sisanya spending pemerintah. Sektor properti sendiri menyumbang 6 persen untuk kontribusi di PDB," lanjutnya.

Dari 6 persen tersebut, apabila ditarik ke realita di daerah, sektor properti idealnya bertumbuh 10 persen.

Dengan melihat realita di DIY pada 2015 yang hanya bisa menyuplai kurang dari 2.000 unir produk properti utamanya rumah, ditambah prediksi tumbuh 10 persen, maka idealnya pada 2016 bisa menyuplai sedikitnya 2.200 unit produk properti .

Optimisme lain, lanjut Andi, terlihat dari mulai naiknya kembali pengembangan rumah murah.

Ketika pada 2015 tidak ada pengembang menyuplai rumah murah bersubsidi, pada 2016 ini mulai ada pengembang yang terjun di sektor ini.

"Sudah ada sedikitnya lima pengembang yang berminat menggarap sektor rumah murah dengan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Hanya saja, pengembang tersebut dari luar DIY yakni Klaten dan Purworejo," ungkap Andi.

Para pengembang dari Klaten menurutnya akan menggarap rumah murah bersubsidi di Bantul, sementara pengembang dari Purworejo akan terjun ke Kulonprogo. Mereka pun sudah "kulo nuwun" ke REI DIY.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved