Kisah Penyadap Nira di Candi Borobudur yang Sukses Kuliahkan Anaknya
Ratusan bahkan ribuan pohon kelapa di dekat Candi Borobudur bahkan menghantarkan Rohadi (41), untuk menguliahkan putra-putranya
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Kelestarian vegetasi di kompleks Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB), ternyata membawa berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar.
Ratusan bahkan ribuan pohon kelapa di dekat Candi Borobudur bahkan menghantarkan Rohadi (41), untuk menguliahkan putra-putranya hingga sukses masuk ke perguruan tinggi.
Seperti yang terlihat pagi itu, Rohadi nampak sibuk memanjat pohon kepala dengan membawa sepotong bambu yang diikat dengan tali di tubuhnya. Dia lantas melihat dan mengecek pucuk pohon kelapa yang ada di kompleks TWCB.
Rohadi adalah satu diantara dua penyadap nira yang masih setia berburu cairan ini dari satu pohon ke pohon lain.
Pada awalnya jumlah penyadap nira mencapai puluhan orang, namun seiring berjalannya waktu kini tinggal bertahan dua orang yakni Rohadi dan Sadikir (60).
“Saya menyadap nira sejak tahun 1992 silam hingga sekarang. Kalau setiap hari, saya biasanya menyadap nira di 14 pohon kelapa,” ujar Warga Bogowanti Kidul RT 01/13, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur ini, belum lama ini.
Dia menjelaskan, rata-rata untuk menyadap tiga pohon kelapa membutuhkan waktu 10 menit. Untuk masa menyadap tiap satu pohon berlangsung selama 35 hari.
Adapun pekerjaan tersebut dilakukan pada pagi dan sore hari. Bahkan, dia menganggap pekerjaannya seperti olahraga.
“Untuk pagi pukul mulai pukul 06.00 WIB, kalau sore pukul 15.00 WIB. Kalau pagi hari bisa mendapatkan 20 liter, kalau sore hari rata-rata 7 liter,” katanya.
Suami dari Nuryani (41) ini menambahkan, rejekinya datang dari berbagai pihak. Setiap tiga hari sekali, nira yang disadapnya dipesan pabrik roti. Dia harus mengirimkan nira sebanyak 7 liter. Kemudian, dibuat gula kelapa, terkadang kalau ada pesanan gula dibuat model stupa.
Dia mengatakan, gula kelapa yang diproduksinya dijual Rp 15.000 per kilogramnya. Terkadang ada orang yang menginginkan minum langsung nira hasil sadapannya. Untuk itu, per gelasnya, dia menjual Rp 3.000.
“Ada juga yang pesan dibuatkan cimplung (singkong direbus dengan nira),” ujar Rohadi yang mengaku tidak menjual gula kelapa di pasar ini.
Kuliahkan Anak
Nira adalah salah satu pundi-pundi rupiah baginya. Dari cairan yang terasa asam manis ini, dia mampu menelan manisnya kehidupan. Dia mampu mengkuliahkan anak pertamanya, Siti Wahyu R (19), di jurusan Pendidikan Sosial semester III Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan anak keduanya, Mahendra Choiri H, yang masih siswa SD.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/penyada-nira_20160111_072908.jpg)