Wow, Kue Kering Batik Jogja

Yuyun menciptakan tiga jenis batik ke dalam kue keringnya, yaitu motif Batik Kawung, Batik Parang Rusak dan Batik Truntum.

Penulis: abm | Editor: oda
tribunjogja/septiandrimandariana
Kue Batik Jogja inovasi dari Nur Wahyuni (40), seorang pengajar di salah satu sekolah tinggi di Yogyakarta, yang juga seorang ibu rumah tangga. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Septiandri Mandariana

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Baru-baru ini, seorang pengajar di salah satu sekolah tinggi di Yogyakarta, yang juga seorang ibu rumah tangga menciptakan sebuah inovasi yang memadukan antara kue kering dan motif batik khas Yogyakarta.

Ya, ialah Nur Wahyuni (40), atau biasa disapa Yuyun yang berhasil memadukan salah satu jenis cemilan dengan ciri khas budaya yang dimiliki Indonesia.

Yuyun menciptakan tiga jenis batik ke dalam kue keringnya, yaitu motif Batik Kawung, Batik Parang Rusak dan Batik Truntum.

Ketiga motif kue keringnya itupun yang mengantarkannya menyabet juara 1 Lomba Kreasi Oleh-oleh Makanan Khas Jogja yang diselenggarakan Disperindagkop DIY pada November 2015 lalu.

"Setelah Yogyakarta dinobatkan sebagai kota batik dunia, saya mencoba untuk berinovasi lewat kue kering yang memiliki motif batik khas Yogyakarta," ungkap Yuyun kepada Tribun Jogja, Sabtu (9/1/2016) siang di kediamannya yang berada di Karangkajen, MG 3, 1024, RT 54, RW 14, Kota Yogyakarta.

Ia melanjutkan, sebelum membuat kue batik, Yuyun pun menyempatkan untuk belajar membatik terlebih dahulu.

Setelah bisa, ia langsung mempraktekannya ke dalam adonan kue dengan menggambar motif batik secara manual. Bahan-bahannya pun menggunakan bahan baku yang berasal dari Indonesia, di antaranya tepung singkong.

"Setelah mendapatkan juara 1, saya baru memulai untuk memproduksi banyak pada bulan Desember, dan itupun tidak langsung berhasil, beberapa kali gagal. Percobaannya sampai satu bulan. Tapi Alhamdulillah akhirnya bisa jadi seperti sekarang," ujarnya.

Kue Batik Jogja ini berisikan sebanyak 18 buah kue kering dalam satu kemasan. Perkemasan Yuyun jual dengan harga Rp 25.000 dan bisa bertahan hingga 6 bulan.

Awalnya Yuyun hanya membuat sebanyak 600-an box dan langsung ludes terjual ke dua gerai toko oleh-oleh khas Yogyakarta.

"Saya sangat kewalahan sekali, karena ternyata habis dibeli oleh para wisatawan. Ini mereka memesan lagi kuenya. Responnya sangat bagus sekali," paparnya.

Keunggulan dari kue kering miliknya ini yaitu mengangkat nilai-nilai budaya lokal yang juga menggunakan bahan baku dari bahan-bahan asli Indonesia.

Yuyun optimis ke depannya produk terbaru yang ia ciptakan ini akan lebih banyak digandrungi oleh masyarakat Indonesia.

"Saya sedang mengurus hak patennya. Kemarin juga sempat ada yang memesan dari Sulawesi. Tapi dia pengennya motiv batiknya khas sana. Mungkin ke depannya bakal nyari untuk cita rasanya yang khas banget," tuturnya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved