Yogyakarta sebagai Rumah Para Writer

Ibarat sebuah pisau yang harus diasah agar bisa menjadi tajam, para pelaku graffiti atau writer, harus sering mengasah kemampuannya di dinding kota.

Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Ikrob Didik Irawan
dok pri
Dammar Nside ketika menuangkan ide dalam pikirannya dalam bentuk karya seni graffiti di sebuah dinding di Kota Yogyakarta. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Nilai tak tertulis yang ada di sepanjang pengerjaan karya, kerumitan maupun skill yang diperoleh saat belajar membuat graffiti menjadi keasyikan tersendiri bagi Riza Dammar Jati.

Mahasiswa Desain Interior, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tersebut mengaku jatuh cinta pada dunia graffiti sejak 2006 silam.

Setiap karya pria yang lebih dikenal dengan nama Dammar Nside tersebut dibuat secara spontan.

Apapun yang terlintas dalam pikirannya pada detik itu, akan ia torehkan ke dinding menggunakan materialspray cans, dikombinasikan dengan cat dinding serta material lain yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Kebanyakan dari karya yang ia buat adalah simbol dari hal-hal liar yang muncul dalam pikirannya, mulai dari warna hingga karakter yang dibuat menyimbolkan tentang keruwetan yang ada di jalanan.

Mengemasnya sedemikian rupa sehingga perasaan itu bisa tersalurkan kepada para penikmat seni jalanan.

Ibarat sebuah pisau yang harus diasah agar bisa menjadi tajam, para pelaku graffiti atau writer, harus sering mengasah kemampuannya di dinding kota.

Agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan pihak terkait, Dammar menjelaskan tentang graffiti ilegal dan legal, terutama untuk para pemula yang sedang atau akan memulai hobi graffiti.

"Writer ilegal tidak memandang mana spot yang boleh digambar atau tidak. Pertimbangan mereka hanyalah spot tersebut cocok untuk digambar. Biasanya hal ini menjadi pilihan para writer yang menyukai tantangan yang memacu adrenalin dan bisa merampungkan karya dengan tempo pengerjaan secara cepat," tuturnya, Minggu (27/12/2015).

Sementara itu, untuk writer legal mereka akan melihat suatu spot yang sudah pernah digambar dan juga meminta izin kepada pihak terkait sebelum menggambar.

Pengerjaan karya legal membutuhkan waktu yang relatif lama, karena sudah mengantongi izin sehingga pengerjaannya lebih detail dan juga memiliki tema.

Anak kedua dari tiga bersaudara tersebut menyebutkan jika Yogyakarta sebagai kota seni dan budaya, di mana setiap sudutnya mempunyai cerita, menjadi satu di antara kota graffiti terbesar di indonesia.

Perkembangannya juga pesat dengan banyaknya pelaku seni graffiti yang tinggal di kota ini. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved