Budidaya Sapi di Bantul Perlu Didorong Menuju Industri
data populasi sapi yang dimiliki Bantul sebesar 52.000 ekor sering tidak singkron dengan kenyataan di lapangan.
Penulis: apr | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Anas Apriyadi
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Selain melakukan pemantauan pada komoditas pokok seperti beras,Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) juga melakukan pantauan komoditas sekunder, yaitu daging sapi pada sentra sapi Bantul di Segoroyoso, Pleret, Jumat (18/12/2015).
Ketua Paguyuban Pedagang Sapi Segoroyoso (PPDS), Ilham Jayadi, mengungkapkan data populasi sapi yang dimiliki Bantul sebesar 52.000 ekor sering tidak sinkron dengan kenyataan di lapangan.
Pedagang daging di Bantul menurutnya sering kesulitan mendapatkan sapi siap potong di Bantul, sehingga masih mendatangkan dari luar daerah seperti Boyolali.
Jikapun memotong sapi yang ada di Bantul menurutnya kebanyakan yang dipotong adalah sapi yang belum siap potong sehingga kurang menguntungkan secara ekonomi dan membuat harga naik.
"Kebanyakan yang dipotong sapi bakalan," ungkapnya.
Permasalahan tersebut menurutnya juga disebabkan sebagian besar peternak sapi di Bantul masih berpikiran tradisional.
Pemeliharaan sapi tidak untuk industri namun hanya hobi dan simpanan, padahal kebutuhan daging sapi masyarakat makin meningkat.
Jika tidak segera ditangani dengan masuknya era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), daging sapi impor bisa menguasai pasar lokal.
"Kalau tidak kita ikuti industrialisasi, daging India bebas masuk, masyarakat dan peternak yang hancur," katanya.
Kepala Bappeda Bantul, Tri Saktiyana mengungkapkan harga sapi di Bantul saat ini memang masih stabil tinggi di angka Rp 105.000/kg.
Stok sapi dari dalam Bantul menurutnya memang dikatakan masih kurang sehingga pedagang masih mendatangkan dari luar daerah.
"Sapi kita 50 ribu lebih, jumlahnya mungkin benar, di rumah tangga ternak tidak dijual tapi buat klangenan, sehingga akan menaikkan harga daging," terangnya.
Menurutnya kedepam perlu dilakukan penanganan makrosistemik terkait daging sapi di Bantul dimana permintaan memang selalu meningkat.
Pemkab Bantul menurutnya akan menjanjikan sejumlah langkah untuk menjaga stok sapi potong dan mengembangkan industri budidayanya di Bantul.
"Kita perlu validasi populasi ternak, jangan sampai datanya cukup tapi ternaknya tidak ada, kemudian reedukasi peternak, dan mendorong investasi di industri peternakan yang saat ini masih kurang" terangnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ternak-sapi-bantul_20151219_084752.jpg)