Melihat Kejayaan Mataram Islam Lewat Museum Sejarah Purbakala Pleret

Museum yang dibangun sejak tahun 2004 dan mulai dibuka untuk umum pada tanggal 10 Maret 2014 ini menyimpan benda-benda koleksi peninggalan Mataram

Tayang:
Penulis: Hamim Thohari | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Hamim Thohari

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Kerajaan Mataram Islam sebagai cikal balal Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, memiliki sejarah yang sangat panjang.

Pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam pernah beberapa kali dipindahkan, dan salah satu wilayah yang pernah menjadi pusat kerajaan ini adalah Pleret yang berada di Kabupaten Bantul.

Pleret menjadi pusat kerajaan Mataram Islam pada masa pemerintahan Amangkurat I yang merupakan penerus raja sebelumnya yakni Sultan Agung.

Sebelum berada di Pleret, pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam juga sempat dipindahkan oleh Sultan Agung dari Kotagede ke Daerah Kerto pada tahun 1613 yang juga berdekatan dengan Pleret dan saat ini menjadi satu wilayah administrasi Kecamatan Pleret.


Tribun Jogja/Hamim Thohari

Untuk mengangkat dan mengenalkan masa kejayaan Mataram Islam di Pleret, maka di dusun Kedaton, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul dibangun sebuah museum bernama Museum Sejarah Purbakala Pleret.

Museum yang dibangun sejak tahun 2004 dan mulai dibuka untuk umum pada tanggal 10 Maret 2014 ini menyimpan benda-benda koleksi peninggalan Mataram di wilayah Bantul pada umumnya dan Pleret pada khsusnya.

Umpak

Di museum tersebut terdapat ratusan benda-benda bersejarah yang sebagian besar adalah sisa-sisa bagian bangunan.

Beberapa umpak (landasan tiang bangunan yang terbuat dari batu) dapat Anda lihat saat mengunjungi museum yang tiap harinya buka dari jam 08.00 pagi hingga 04.00 sore tersebut.

Dan salah satunya adalah replika umpak kerto yang memiliki panjang sisi 85 cm x 85 cm, sedangkan sisi bagian permukaan 70 cm x 70 cm.

Dijelaskan Ganang Nur Restu (24) selaku Edukator museum, umpak aslinya masih berada di sebuah dearah yang oleh masyarakat sekitar dikenal dengan nama Lemah Duwur.

"Yang tersisa di sana tinggal dua buah umpak, satu umpak lainya digunakan untuk membangun masjid Soko Tunggal di lingkungan Taman Sari. Wilayah Lemah Duwur tersebut kemungkinan dulunya adalah lokasi bangunan Siti Hinggil yang merupakan bangunan utama di kompleks Keraton yang dibangun oleh Sultan Agung," terang Ganang.


Tribun Jogja/Hamim Thohari

Pada masa pemerintahan Sultan Agung di Kerto inilah Agung membuat penyerangan bersejarah kepada VOC di Batavia pada 1628 dan 1629.

Sebagai tempat latihan para prajurit dalam serangan laut bahkan dibangunlah sebuah laut buatan di tempat yang kini menjadi Desa Segoroyoso, Pleret.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved