Bantu Jathilan Sebatang Dikenal Dunia

Lokasi rumah yang berjauhan, tak membuat jiwa kemanusian dan sosial masyarakat di Hargotirto, Sebatang, Kulonprogo, menjadi renggang.

Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: oda
Ist
Pelaku seni Sebatang sedang mempelajari gerakan tari jathilan yang menjadi salah satu seni tradisi yang cukup kuat di daerah tersebut. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Lokasi rumah yang berjauhan, tak membuat jiwa kemanusian dan sosial masyarakat di Hargotirto, Sebatang, Kulonprogo, menjadi renggang.

Terlebih soal seni tradisi. Mereka rela berkumpul ke satu titik untuk memperdalam kesenian jathilan.

Sekelompok anak muda mencoba mengembangkan kemampuan masyarakat setempat dengan jathilan kreasi baru.

Mereka adalah penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang bernama Menyapa Indonesia.

Mereka memiliki mimpi yang berusaha diwujudkan bersama warga sekitar. Keinginan untuk membawa jathilan Sebatang tak hanya lestari, namun juga dikenal dunia.

Hal tersebut diwujudkan dengan menggelar pelatihan atau workshop jathilan yang telah dilaksanakan sejak oktober lalu.

Bersama pelaku seni dari ISI dan juga seniman setempat, pelaku jathilan Sebatang diberikan tambahan ilmu tentang jathilan klasik dan juga kreasi.

"Warga setempat sudah menguasai jathilan, hanya saja jathilan klasik. Agar lebih berkembang kami juga kenalkan dengan jathilan kreasi. Tapi untuk memulainya, harus dinolkan terlebih dahulu karena butuh belajar dari pertama lagi," jelas Burhanuddin Aziz, Koordinator Program Kebudayaan Menyapa Indonesia.

Workshop Jathilan yang bertajuk “Jathilan Kreasi: Ragam, Bentuk, dan Variasinya” yang dilaksanakan pada tanggal 1 November yang lalu, dihadirkan pelatih tari lokal untuk memberikan sedikit pengarahan untuk menambah ilmu para pelaku seni jathilan di Sebatang.

Tidak hanya dilakukan pembelajaran secara teoritis dan praktik, namun seniman lokal juga diminta untuk menunjukkan kemampuan tarinya dalam pertunjukkan sederhana yang digelar di salah satu rumah warga.

Workshop ini diadakan karena sebagian besar pemuda di Hargotirto cenderung bersikap pasif terhadap pelestarian seni tari Jathilan atau Kuda Lumping.

Sikap pasif dicontohkan dengan kurangnya animo pemuda untuk tergabung dalam grup kesenian Jathilan.

Akibatnya terdapat risiko bahwa kesenian Jathilan perlahan-lahan akan memudar karena kekurangan generasi penerus dan rendahnya motivasi untuk berkarya.

Padahal, kesenian Jathilan merupakan ciri khas Sebatang, dan sudah diwariskan secara turun-temurun, dan telah banyak mencetak prestasi.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved