Lulusan IST Akprind Diminta Siap Hadapi MEA

Sudarsono, menuntut para lulusan IST Akprind Yogyakarta untuk mampu bersaing dengan masyarakat ekonomi Asean dari negara lain.

Penulis: tiq | Editor: Muhammad Fatoni
akprind.ac.id
Kampus IST Akprind Yogyakarta 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Pristiqa Ayun Wirastami

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dalam pertemuan para kepala negara ASEAN yang telah digelar minggu lalu, telah sepakati akan memulai Masyarakat Ekonomi Asean pada akhir tahun ini.

Dengan adanya kesepakatan ini, maka semua pihak diminta untuk segera mempersiapkan diri dalam menghadapi pasar bebas yang telah di depan mata.

Tak terkecuali bagi para lulusan Institut Sains dan Teknologi (IST) Akprind Yogyakarta yang besok (24/11/2015) diwisuda di Jogja Expo Center (JEC).

Rektor IST Akprind Yogyakarta, Sudarsono, menuntut para lulusan IST Akprind Yogyakarta untuk mampu bersaing dengan masyarakat ekonomi Asean dari negara lain.

"Pada tahun 2015 ini, Indonesia telah memasuki babak baru dalam persaingan global. Seharusnya dalam kurun waktu tersebut, Indonesia lebih siap dalam menghadapi MEA. Namun sayangnya, Indonesia masih jauh dari kata siap," ujar Sudarsono dalam pembekalan calon wisudawan Sarjana (S1) dan Diploma 3 (D3) di kampus setempat, Senin (23/11/2015).

Tantangan utama yang dihadapi Indonesia untuk menghadapi MEA, lanjut dia, adalah sumber daya manusia (SDM) yang memadai.

Dalam konteks ini, mahasiswa merupakan pilar utama dan garda terdepan di bidang SDM.

Lebih lanjut Sudarsono memaparkan data perbandingan indeks daya saing Indonesia menurut The Global Competitiveness Report 2013-2014 dibandingkan dengan negara-negara lain di ASEAN.

Indonesia berada di peringkat 38 dari 148 negara. Sementara negara seperti Singapura berada di peringkat dua, Malaysia di peringkat 24, Brunei di peringkat 26, dan tepat di atas Indonesia peringkat 37 ada Thailand.

Data dari ASEAN Productivity Organization juga menunjukkan dari seribu tenaga kerja Indonesia, hanya ada sekitar 4,3 persen yang terampil.

Sementara di Filipina ada 8,3 persen, Malaysia 32,6 persen, serta Singapura 34,7 persen.

"Oleh sebab itu, perguruan tinggi harus berbenah untuk meningkatkan kualitas lulusannya. Lulusan perguruan tinggi pada saat ini harus menguasai ketrampilan-ketrampilan baru yang dibutuhkan dunia kerja saat ini. Seperti misalnya leadership, communication, entrepreneurship, team working, dan lain-lain," jelasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved