Utang Luar Negeri Indonesia Kian Berisiko
Utang luar negeri (ULN) Indonesia kuartal III tahun ini tampaknya kian berisiko.
TRIBUNJOGJA.COM - Utang luar negeri (ULN) Indonesia kuartal III tahun ini tampaknya kian berisiko.
Ini lantaran rasio pembayaran pokok dan bunga atas utang jangka panjang dan pembayaran bunga atas utang jangka pendek atau debt service ratio (DSR) tier-2 triwulanan naik menjadi sebesar 60,40%.
Angka itu lebih tinggi dibandingkan dengan DSR triwulan II 2015 yang sebesar 59,90%.
Sedangkan DSR tahunan pada triwulan III 2015 tercatat sebesar 57,47%, naik dari posisinya di triwulan sebelumnya yang sebesar 53,42%.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, kemampuan membayar utang RI kian lemah.
Pasalnya, rasio beban utang yang ditanggung Indonesia itu dua kali lipat dari batas wajar yang ditentukan oleh International Monetary Fund (IMF).
Batas wajar DSR yang ditentukan IMF adalah sebesar 30%-33%.
"Depresiasi rupiah dan kinerja ekspor yang melemah akan menjadi double hit untuk pembayaran ULN," katanya, Rabu (18/11).
Pasalnya, kenaikan DSR hingga 60,45% berarti penerimaan ekspor barang, jasa, dan transfer pendapatan akan habis untuk membayar ULN.
Jika ekspor terus melambat, ini bisa kian membahayakan.
Menurutnya, pemerintah harus segera mencari produk ekspor baru yang memberikan nilai tambah.
Bahayanya lagi, dalam kondisi yang bersamaan, penerimaan pajak yang rendah.
Kata Joshua, ini harus menjadi peringatan bagi pemerintah dalam mencari pinjaman untuk menutup defisit fiskal hingga akhir tahun.
Pasalnya, membesarnya DSR akan memberikan sentimen negatif bagi investor.
Utang melambat