Puting Beliung Masih Jadi Ancaman saat Pancaroba

Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dalam beberapa terakhir mulai mengguyur beberapa wilayah di DIY

Penulis: tiq | Editor: Ikrob Didik Irawan
@Sutopo_BNPB
Ilustrasi: Angin puting beliung yang tertangkap kamera di Banyumas, Jateng, Rabu (22/4/2015). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Pristiqa Ayun Wirastami

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dalam beberapa terakhir mulai mengguyur beberapa wilayah di DIY.

Turunnya hujan tersebut merupakan tanda adanya peralihan musim kemarau ke musim hujan atau yang dikenal dengan musim pancaroba.

Pakar cuaca dan iklim UGM, Emiliya Nurjani mengatakan masyarakat perlu waspada terhadap cuaca ekstrim di musim pancaroba.

Pasalnya, di musim pancaroba rawan terjadi bencana angin kencang, banjir, serta tanah longsor.

"Angin kencang atau puting beliung masih berpotensi terjadi di Kota Yogya dan Kabupaten Sleman saat peralihan musim,” jelasnya, Minggu (15/11/2015).

Menurutnya, kawasan Kota Yogyakarta sangat berpotensi terjadi angin kencang karena memiliki suhu udara yang lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya.

Sehingga kawasan Kota Yogyakarta menjadi pusat tekanan rendah yang menghisap massa udara dari arah sekitarnya.

"Kemungkinan munculnya puting beliung cukup besar karena angin selalu menuju ke daerah yang memiliki suhu lebih panas," tutur dosen Fakultas Geografi UGM ini.

Wilayah yang banyak dilakukan pembangunan pun memiliki tingkat kerawanan tinggi terjadi angin kencang. Pasalnya, terdapat banyak bahan material yang mudah menyimpan panas.

Disamping itu, wilayah yang sedikit memiliki tutupan lahan alami juga rawan timbul angin kencang.

"Daerah Sleman juga rawan angin kencang karena lahan alaminya sudah banyak berkurang untuk perumahan," jelasnya.

Emilya menyebutkan terbentuknya angin puting beliung sangat dipengaruhi oleh tingkat pemanasan di permukaan bumi. Terjadi akibat perbedaan suhu udara yang cukup ekstrim dari suhu udara tinggi tiba-tiba terjadi pendinginan.

Adapun tanda-tanda akan terjadi angin kencang antara lain beberapa hari sebelumya udara di malam hari hingga pagi hari panas namun dengan kelembaban udara tinggi.

Selanjutnya terlihat awan cumulonimbus berbentuk seperti bunga kol berwara abu-abu terbentuk dalam jumlah banyak dalam waktu singkat.

"Jika tanda-tanda ini nampak, maka patut diwaspadai akan adanya potensi angin kencang di siang atau sore harinya," tandasnya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved