Blangkon di Yogya Tak Akan Tergerus Zaman

Marsudi, pengrajin blangkon yang meneruskan keterampilan mendiang mertua, yang yakin jika blangkon tak akan pernah terkikis moderenisasi.

Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: oda
tribunjogja/kurniatulhidayah
Marsudi, pengrajin blangkon Slamet Raharjo menunjukkan karyanya yakni blangkon bergaya Yogya dan Solo yang ada di kediamannya, di Jalan Bugisan, Yogyakarta, Kamis (12/11). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Yogya menjadi tempat tinggal para seniman. Ungkapan tersebut bukan sekadar pencitraan, namun merupakan realita.

Seperti halnya Marsudi, pengrajin blangkon yang meneruskan keterampilan mendiang mertua, yang yakin jika blangkon tak akan pernah terkikis moderenisasi, khususnya di kota ini, Yogya.

Marsudi memutuskan untuk melanjutkan bisnis blangkon yang telah ditekuni mertuanya sejak tahun 60-an silam.

Keputusan ini ia ambil, lantaran sayang harus membiarkan produk yang sudah punya nama, pada akhirnya berhenti begitu saja tanpa ada penerusnya.

"Kakak dan adik memilih untuk membuka bisnis lain, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan usaha bapak membuat blangkon," tuturnya, Kamis (12/11/2015) lalu.

Blangkon yang tersohor dengan merek Slamet Raharjo yang bermarkas di Jalan Bugisan ini adalah usaha turun temurun dari sang kakek, bapak, hingga sekarang diteruskan Marsudi.

Dulu, sang kakek, Notodiharjo, diminta untuk membantu pengrajin blangkon yang khusus membuatkan blangkon untuk kalangan kraton.

Hingga pengrajin tersebut meninggal, yang kebajiran order adalah sang kakek. Dari sana keterampilan dan bisnis tersebut diturunkan ke anak cucunya.

"Ya sampai sekarang abdi dalem kalau pesan ke sini. Banyak juga yang kaget ketika tahu bapak sudah meninggal. Lalu saya berkenalan dengan mereka sebagai penerus usaha bapak tersebut," ucapnya kepada Tribun Jogja.

Bukan hal yang mudah bagi bapak dua anak ini untuk mempertahankan kualitas agar pelanggannya tetap setia membeli blangkon Slamet Raharjo. Ia pun membeberkan rahasianya.

"Kuncinya di cetakan kayu klebut ini. Ini adalah pakem yang digunakan untuk menghasilkan blangkon yang nyaman dipakai. Nantinya blangkon yang dibuat sesuai ukuran masing-masing kepala pemesan, bisa terlihat nempel dan nggak kekecilan," bebernya sembari menunjunggan klebut yang sudah berusia puluhan tahun itu.

Pembuatan blangkon sendiri melalui tahapan yang tak mudah. Perlu ketelitian dan kesabaran untuk menghasilkan sebuah blangkon yang membuat penggunanya tampak gagah dan berwibawa.

Lembaran kain batik berbentuk segitiga diwiru, kemudian diberi tengahan warna lain. Setelah itu, kain direkatkan di congkeng (furing) yang menggunakan tikar anyam sebagai bahan utamanya.

Bagian dari blangkon, terdiri dari congkeng (furing), mondolan, tunjungan (bagian depan), tengahan, dan cetet (di belakang kepala).

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved