Kenapa Tentara Pelajar Dijadikan Nama Jalan? Simak Perjuangan Kakek Samdi

Kadang ketika saya termenung, saya menangis teringat teman-teman yang sudah gugur dan berada di makam pahlawan san

Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNGJOGJA.COM | Kurniatul Hidayah
Samdi, salah satu Tentara Pelajar yang menceritakan kisah perjuangannya dalam meraih kemerdekaan Indonesia, dalam Heritage Talk, di Museum Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Selasa (10/11/2015). 

Bangsa Indonesia sudah terlepas dari negara penjajah puluhan tahun silam. Tapi apakah benar negara ini sudah terbebas dari penjajahan yang lain? Siapa saja yang berjuang untuk kemerdekaan? satu diantara adalah Tentara Pelajar.

SIAPA mereka sehingga kini tentara pelajar diabadikan jadi nama jalan bersanding dengan nama jalan lain seperti Jenderal Sudirman, Brigjen Katamso dan lain-lain?

kisah pejuang satu ini bisa dijadikan pijakan sejarah, nama pejuang satu ini adalah, Kakek Samdi, beliau adalah satu diantara tentara yang masih hidup.

Apakah kita bebas dari penjajah? Samdi lantang berteriak, belum. Begitulah yang diungkapkannya pada Heritage Talk tentang Untold Story: Pejuang Tentara Pelajar, sepenggal kisah tak terceritakan dari pejuang kemerdekaan Indonesia.

Ya Samdi adalah bagian dari Tentara Pelajar, mereka adalah para pelajar yang pada jaman kemerdekaan ikut berperang melawan penjajah. Dahulu mereka disebut, pelajar pejuang.

Pada acara yang diselenggarakan di Museum Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Selasa (10/11/2015), sang kakek mengungkapkan kisahnya untuk generasi muda.

Umurnya memang sudah lanjut, tapi sosok renta itu masih bersemangat membagikan kisah hidupnya. Pengalaman pribadi tentang keterlibatannya membela tanah air menjadi pelecut semangatnya hingga kini.

Tak berlebihan rasanya jika mengagungkan sosok Samdi, salah satu tentara pelajar yang ikut andil dalam mengusir penjajah di Indonesia.

Pria yang sudah berkali-kali jadi tawanan Belanda dan babak belur di tangan anak-anak Jepang itu, tak pernah menyerah untuk membuat Bangsa Indonesia segera merasakan aura kemerdekaan.

"Saya ikut dalam pertempuran 10 November di Surabaya. Itu pertempuran yang dahsyat sekali. Saya sebut orang-orang yang di sana benar-benar barisan berani mati," ucapnya dengan suara yang bergetar.

Pria yang saat ini berusia 87 tahun mengungkapkan, jika saat itu ia dan teman-teman sesama pejuang harus mencari senjata sendiri, mencari makan sendiri, mencari pakaian sendiri, dan melakukan semua itu tanpa menerima gaji.

"Kadang ketika saya termenung, saya menangis teringat teman-teman yang sudah gugur dan berada di makam pahlawan sana," bebernya yang tak mampu lagi membendung kesedihan.

BACA: Cerita Mistis Penjaga Makam Pahlawan, Satu Liang Dua Tiga Jenazah

Ketika diminta untuk memberikan pesan bagi generasi muda, ia menyatakan keprihatinannya dengan pola hidup konsumtif.

"Kita di sini konsumtif. Kalau begini terus hutang kita seumur hidup tidak akan lunas. Katanya merdeka, tapi kok punya hutang. Belum lagi pajak di Indonesia terlalu banyak," serunya. (Kurniatul Hidayah)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved