Bagi Bejo, Dunia Bukan Lagi Objek Buram

Bejo, salah satu pasien pertama yang melangkah keluar dari ruang operasi katarak gratis pagi itu, Minggu (8/11/2015).

Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: oda
tribunjogja/kurniatulhidayah
Dokter spesialis mata yang tergabung dalam tim operasi dalam kegiatan operasi katarak gratis tengah melakukan tindakan operasi pada salah satu pasien di Rumah Sakit Griya Mahardhika, Minggu (8/11). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bejo, salah satu pasien pertama yang melangkah keluar dari ruang operasi katarak gratis pagi itu, Minggu (8/11/2015).

Matanya masih diperban, si anak dengan setia berada di sampingnya. Menuntun tiap langkah sang ayah untuk bertemu kakak dan ibunya di lorong rumah sakit.

"Alhamdulillah," pekik sang istri seraya menggandeng tangan Bejo dan mempersilahkannya duduk di bangku tepi lorong.

Seluruh anggota keluarga tak bisa lagi menyembunyikan rasa senang dan keharuannya, melihat tulang punggung keluarganya tersebut telah mendapatkan penanganan yang baik.

Tak lama lagi sang bapak akan kembali melihat dan merasakan kehangatan keluarga kecilnya tersebut.

Katarak yang menyerang kedua bola matanya, telah ia rasakan sejak belasan tahun silam. Kondisi tersebut tak membuatnya mangkir dari tanggung jawab menghidupi istri dan anak-anaknya. Bejo tetap bekerja sebagai buruh tani di Imogiri, Bantul.

"Saya bekerja sebagai buruh tani. Walaupun ngelihat orang aja udah nggak bisa jelas, tapi saya tetap ke sawah setiap hari buat mencangkul dan mengurus pengairannya," tuturnya sambil merebahkan punggungnya di dekapan sang istri.

Ia mengatakan jika mata sangatlah penting. Penglihatan adalah nomor satu. Hal tersebut yang membuatnya segera mendaftarkan diri ke Rumah Sakit Griya Mahardhika, Sewon, Bantul ketika diberi kabar dari Dukuh dan Puskesmas sekitar tempat tinggalnya.

"Harapannya bapak bisa pulih dan bisa kembali melihat lagi," ungkap sang anak singkat, sembari menenteng tas yang berisi obat untuk pria yang paling ia hormati tersebut.

Bejo adalah salah satu pasien katarak yang menjalani operasi katarak gratis yang diselenggarakan sejak pukul 08.00.

Penanggung jawab operasi katarak, yakni Prof dr Suhardjo menjelaskan tentang dua jenis katarak yang mereka tangani hari itu, yakni katarak matang dan mentah.

Penanganannya pun berbeda. Katarak mentah adalah jenis katarak yang belum terlalu parah.

Penanganannya menggunakan alat fakoemulsifikasi yang digunakan untuk mencairkan dan menghisap keluar katarak dari dalam kantong lensa pada saat yang bersamaan.

"Kalau katarak yang matang, bercak putih di mata akan terlihat lebih besar. Itu sangat menghalangi pandangan. Tindakannya pun berbeda, harus dijahit," jelas Hardjo kepada Tribun Jogja.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved