KDW Lestarikan Seni Tapestri

Tapestri atau seni serat memang belum dikenal seperti layaknya seni tenun yang ada di hampir berbagai daerah Indonesia.

Penulis: rap | Editor: oda
tribunjogja/riezkyandhika
Salah satu dari 13 karya yang dihasilkan mahasiswa UKDW yang berukuran masing-masing 40 x 120 cm. Hasil karya tersebut kini dipamerkan di Tirana House, sebuah butik fashion berlokasi di Jl Suryodiningratan No 55 Yogyakarta. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Riezky Andhika

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tapestri atau seni serat memang belum dikenal seperti layaknya seni tenun yang ada di hampir berbagai daerah Indonesia.

Tapestri adalah bentuk seni tekstil berupa tenun tradisional yang biasa dilakukan pada alat tenun vertikal.

Sejarah dan perkembangan tapestri banyak didapati di negara-negara Eropa. Di negara-negara yang memiliki musim dingin, karya tapestri berfungsi untuk penghangat ruangan, korden, permadani atau karpet, dan keset.

Bahkan tapestri juga bisa berfungsi sebagai peredam suara di studio musik.

Saat ini di Indonesia memang tidak mudah mencari seniman atau seseorang yang konsisten berkarya dengan tapestri. Hanya dengan hitungan jari, bisa disebutkan siapa saja seniman Indonesia yang mengerjakan karya dengan teknik tapestri.

Satu di antaranya ialah Biranul Anas, seniman senior tapestri kontemporer yang menorehkan catatan penting dalam perjalanan seni serat Indonesia.

Penerusnya, yang juga pernah berguru kepada Biranul Anas, yakni Abdul Syukur kemudian mengembangkan tapestri hingga kini.

Baru-baru ini, sepanjang September hingga Oktober 2015, Abdul Syukur bersama Koni Herawati, seorang staf pengajar desain produk dan juga seniman berbasis kriya keramik memberikan pelatihan tapestri kepada 13 mahasiswa jurusan Desain Produk angkatan 2014, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta.

Ada 13 karya yang dihasilkan setiap mahasiswa yang berukuran masing-masing 40 x 120 cm. Hasil karya tersebut kini dipamerkan di Tirana House, sebuah butik fashion berlokasi di Jl Suryodiningratan No 55 Yogyakarta.

Para mahasiswa ini bisa dibilang pertama kali membuat tapestry, karenanya eksebisi ini menjadi pengalaman luar biasa dalam proses berkreasi.

Dari ke 13 mahasiswa tersebut, tujuh di antaranya perempuan, sisanya laki-laki. Tapestri cenderung indentik dengan pekerjaan ketrampilan kaum hawa, maka sebagian besar mahasiswa laki-laki mengaku mengeluh kerepotan ketika mengerjakan karya tapestri mereka.

Tetapi hal ini tidak berlaku bagi Dommy yang sangat menikmati, dan mengaku ingin membuat karya tapestri berikutnya. Karya Dommy pada pameran ini mengangkat tema tokoh virtual Mario Bross.

Bagi dia pola-pola tapestri cenderung sama dengan pola-pola pixel (kotak-kotak). Sama halnya dengan Ve, mahasiswi yang membuat tapestri dengan tema Tetris.

Bagi Dommy dan Ve, untuk karya berukuran 40 x 120cm tersebut bisa mereka selesaikan dalam waktu kurang lebih 3-4 hari. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved