Generasi Terakhir Para Perajin Kain Lurik

Pekerjanya, Sebagian besar dari karyawan tersebut sudah menginjak usia tua, rata-rata pegawai di sana berumur di atas 50 tahun.

Penulis: Hamim Thohari | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA.COM | Bramasto Adhy
Proses pembuatan kain lurik yang masih dilakukan secara tradisional. Tribun Jogja | Bramasto Adhy 

Kain lurik sebagai satu diantara beberapa jenis kain khas Jawa keberadaanya mulai terpinggirkan. Posisinya tak seperti kain batik yang lebih populer dan dikenakan banyak orang, kenyataannya sedikit orang yang melirik kain lurik.

DIBALIK fakta itu, meski tak sepopuler kain batik, sejumlah pembuat kain lurik hingga kini masih eksis. Kenyataan lain, para perajin sebagian besar adalah 'generasi terakhir' yang sudah usia senja.

Semisal di daerah Krapyak Wetan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, industri rumahan yang memproduksi kain lurik sejak 1962 sampai saat ini masih bertahan. Usaha rumahan ini sekarang dikelola generasi ketiga.

Pekerjanya, Sebagian besar dari karyawan tersebut sudah menginjak usia tua, rata-rata pegawai di sana berumur di atas 50 tahun.

Satu diantara pegawai yang bekerja disana bahkan telah bekerja sejak pertama kali tempat tersebut buka adalah Wignyo Susanto (84).

Ia bekerja di Karunia sejak 1962. "Saya bekerja di sini dari karyawannya hanya lima orang," ujar Wignyo.

Sedangkan usaha tenun lurik di Krapyak itu mempekerjakan sekitar 50 karyawan, adalah Jussy Rizal, generasi ketiga pengelola usaha Tenun Lurik Karunia.

Ia mulai mengambil alih usaha kain lurik dari orangtuanya sejak 2003.

"Awalnya ada unsur kepepet saya mengelola usaha ini. Tidak ada niatan untuk meneruskan usaha ini, tapi kok eman-eman (sayang) jika tidak ada yang meneruskan," jelas Jussy.

Saat ini di Krapyak Wetan tinggal ada satu usaha pembuatan kain tenun lurik. Dulunya Krapyak Wetan dikenal sebagai salah satu sentra industri kain lurik.

Pada masa kejayaan kain tenun lurik, antara tahun 70-an hingga 80-an terdapat sekitar 10 usaha tenun kain lurik di wilayah itu.

Menurut Jussy untuk mempertahankan usaha tersebut, perlu inovasi agar kain lurik tetap diterima masyarakat.

"Kami melakukan inovasi terus mulai dari pemilihan bahan hingga motif. Agar kain lurik diterima harus melakukan inovasi terus, tetapi tanpa meninggalkan pakem dari kain lurik itu sendiri," jelas Jussy.

Hingga saat ini, proses pembuatan kain lurik di tempat tersebut masih menggunakan cara tradisional. Penenunan masih menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved