Ini Dia Foto Bersejarah Panglima Besar Sudirman di Pacitan
Supadi mengingat keluarganya tak pernah menyangka Mbah Dirman akan tinggal dan menjadikan rumah bapaknya sebagai markas
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Ikrob Didik Irawan
"Pagi biasanya minumnya "melek" (milk atau susu kental manis). Juga bubur kacang hijau. Kadang saya juga dipanggil Mbah Dirman ke kamar, suruh ngehabisin minum atau buburnya," kata Supadi, putra pertama Karso Semito dan Jainah ini.
Foto
Ingatan sejarah Supadi yang waktu itu masih kanak-kanak memang tajam. Bukti foto keberadaan diri dan keluarganya di perjalanan hidup Jenderal Dirman juga ada.
Foto diambil di saat-saat terakhir sebelum Jenderal Sudirman dan rombongannya meninggalkan Dusun Sobo.
Semua prajuritnya diajak berfoto di depan rumah yang tiga bulan terakhir ditinggali, dan jadi markas pusat gerilya tentara Republik Indonesia.
Karso Semito, Jainah, dan Supadi diajak berfoto dan posisi mereka berada di tengah-tengah para pengawal bersenjata.
Bahkan bapaknya Supadi, Pak Karso Semito, memegang senapan laras panjang, sejajar dengan para gerilyawan lain yang duduk sembari menenteng senapan mesin.
"Itu saya, di belakang simbok saya, Mbok Jainah. Di depan yang baju putih pegang senapan, itu bapak," kata Supadi sembari menunjuk posisi dirinya, bapak dan simboknya di foto dokumentasi sejarah.
Foto besar hitam putih hasil reproduksi itu kini bisa dilihat di bagian belakang rumah gerilya Jenderal Sudirman di Dusun Sobo, yang telah dipugar dan dijadikan tetenger.
Jenderal Sudirman duduk di tengah-tengah mengenakan blankon dan mantel serta baju hangat seleher kerahnya.
Sebilah keris terselip di bagian depan tubuhnya. Di sebelah kiri dan kanan berjejer pembantu terdekatnya, seperti Supardjo Rustam, Tjokropranolo, Utoyo Kolopaking, Heru Kesser, dan lain sebagainya.
Supadi mengisahkan, suasana saat itu penuh isak tangis. Selain hendak ditinggal pergi Jenderal Sudirman dan rombongan, keharuan membuncah saat Pangsar Sudirman menyorongkan uang ke Karso Semito, untuk ganti biaya selama tinggal di rumah itu.
Tapi Karso Semito menolak, dan semua yang dilakukan warga dengan membuat dapur umum untuk gerilyawan diikhlaskan sebagai bentuk dukungan perjuangan.