Pelemahan Rupiah Berdampak pada Material Impor

Dalam proses pembangunan properti, sebagian komponen material masih harus diimpor

Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: Ikrob Didik Irawan

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rento Ari Nugroho

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dalam proses pembangunan properti, sebagian komponen material masih harus diimpor. Akibatnya, ketika terjadi pelemahan rupiah seperti sekarang, mau tidak mau biaya konstruksi pun ikut terimbas.

Apabila dolar terus menguat, maka para pengusaha baik pengusaha konstruksi maupun penyedia material terpaksa harus melakukan penyesuaian harga dan tarif jasa.

Public Relation Supermarket Bahan Bangunan "Matahari Jaya," Rully Hefri Badi mengatakan, kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah memang cukup berdampak pada kenaikan sejumlah harga material.

Hanya saja, kenaikan itu tidak terjadi secara menyeluruh.

"Kenaikan tentunya terjadi pada material yang masih impor. Sementara untuk material yang sudah ada di lokal, tentu tetap stabil," jelasnya kepada Tribun Jogja, Senin (7/9/2015).

Rully mengatakan, persentase untuk jumlah material yang masih harus impor tersebut tidak terlalu signifikan. Dengan demikian, dampaknya terhadap pelanggan pun juga tidak terlalu besar.

"Tidak semuanya dari impor sehingga costumer pun tidak terlalu terpengaruh," lanjutnya.

Mengenai biaya antar, menurut Rully hingga saat ini pun belum ada perubahan. Hal itu sedikit banyak dilakukan untuk menahan imbas kenaikan beberapa material.

"Kalau sebagian harga barang sudah naik dan biaya antar naik, kasihan costumernya. Karena itu, biaya antar pun tidak banyak perubahan," tegasnya.

Terpisah, owner CV Lightgroup yang merupakan badan usaha penyedia material dan jasa konstruksi, Henricus Yulianto Perdana mengatakan hal senada.

Menurutnya, kenaikan dolar ini tidak langsung berimbas pada kenaikan harga material maupun biaya jasa. Hal itu disebabkan kenaikan harga material sejatinya telah terjadi sejak awal tahun.

"Dampak dolar pada kenaikan harga ini untuk sementara masih bisa ditahan. Kami masih menawarkan harga lama. Sebab, sebelum dolar naik pun harga telah beranjak naik sejak awal tahun, terutama semen dan besi," ungkapnya.

Sebab musabab menahan harga ini menurut Henri tak lepas dari sepinya permintaan pembangunan maupun renovasi pada semester 1 2015.

Apabila harga dinaikkan, tentunya akan memperberat upaya untuk mengejar target proyek untuk menutup biaya. Bila sebelum Agustus 2015 pihaknya bisa menggarap 8-12 proyek setiap bulannya, kini hanya sekitar 4 proyek.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Tags
Rupiah
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved