Shibori, Teknik Pewarnaan Kain dari Jepang yang Serupa Batik
Nakanishi, seniman Shibori dari Jepang ini memperagakan cara pembuatan bahan pewarna indigo, dan teknik pewarnaan Shibori yang terbilang cukup mudah.
Penulis: Rendika Ferri K | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K
TRIBUNJOGJA.COM,YOGYA - Tampak seorang sensei mengaduk-aduk cairan biru indigo dalam ember besar, beberapa lainnya mengikat kain lalu mencelupnya ke dalam ember.
Sejenak direndam, kain-kain tersebut diangkat, jadilah motif unik seperti bunga beraneka rupa.
Adalah, Nakanishi Hidenori, seorang seniman Shibori dari Jepang, memperkenalkan teknik pewarnaan menggunakan bahan alami daun indigo, yang dinamakan Shibori, salah satu teknik pewarnaan celup ikat asli dari negeri matahari terbit, Jepang pada acara Jogja Japan Week 2015.
Yang menarik dalam Shibori adalah untuk membuat motif hiasan kain yang pada umumnya dengan cara digambar ataupun dilukis, namun pembuatan pola menggunakan Shibori adalah dengan diikat menggunakan tali.
"Shibori ini, motif yang terbentuk, adalah dengan cara diikat, dan dicelup," ujar Nakanishi, dalam bahasa Jepang, Jumat (4/9/2015), di acara Jogja Japan Week 2015 di GSP UGM.
Nakanishi, seniman Shibori dari Jepang ini memperagakan cara pembuatan bahan pewarna indigo, dan teknik pewarnaan Shibori yang terbilang cukup mudah dilakukan, bahkan untuk orang yang awam.
Pertama-tama, bahan baku pewarna diambil dari daun Indigo atau biasa disebut daun Tarum. Daun-daun tersebut dikumpulkan dan dikeringkan dibawah sinar matahari.
Setelah kering, daun-daun tersebut direndam dalam ember besar berisi ari dan diaduk-aduk.
Selama 100 hari, daun-daun tersebut difermentasikan, dalam campuran air panas, air campuran abu bakar, ditambah dengan larutan tepung kanji dan minuman tradisional Jepang, Sake. Jadilah pewarna Indigo.
Teknik pewarnaan Shibori ini pun terbilang gampang, orang awam pun dapat dengan mudah mempelajarinya. Pertama-tama, kain polos yang telah dibasahi air, diikat sesuai pola atau motif yang diinginkan.
Selesai mengikat, kain-kain tersebut dicelupkan ke dalam larutan pewarna biru indigo selama tiga menit.
Kain yang telah dicelup, dientaskan, diperas, kemudian diangin-anginkan beberapa saat. Senakin lama diangin-anginkan, warna akan semakin pekat.
Setelah diangin-anginkan, kain Shibori selanjutnya dicelup ke dalam ember larutan cuka pekat selama beberapa saat. Usai dicelup cuka, kain shibori kembali diangin-anginkan sampai kering, dan kain selesai diwarnai.
"Larutan cuka pekat, digunakan agar warna yang dihasilkan tak luntur atau hilang," ujar Nakanishi Hidenori.
Hidenori bercerita, teknik Shibori ini sudah digunakan sejak zaman kekaisaran Jepang beberapa ratus tahun yang lalu. Ia bertutur, pewarna alami ini bahkan dapat bertahan selama 600 tahun lamanya.
Selain dari bahan alami, kain dengan Shibori tahan lama.
Ada sebanyak 560 teknik ikatan dalam pewarnaan Shibori. Ada yang berbentuk kotak, bermotif bunga, sampai motif-motif rumit dengan metode pengikatan yang lebih rumit.
"Kain dengan pewarnaan Shibori ini bisa bertahan 600 tahun lamanya," ujarnya.
Hidenori bercerita, teknik pewarnaan Shibori ini hampir sama dengan teknik pewarnaan asli Indonesia, Batik.
Namun yang membedakan, pembuatan pola Shibori dengan teknik mengikat, sedangkan batik adalah dengan mencanting dengan lilin.
Ia mengatakan, Batik tak kalah pentingnya dengan Shibori, yang merupakan warisan budaya nenek moyang yang semestinya tetap terus dijaga kelestariannya.
"Di Negara kami (Jepang), Sharusa, yang tak lain adalah batik dari Jepang. Batik ini hampir serupa dengan Shibori, sesuatu hal yang penting, warisan yang penting dari nenek moyang dan harus dijaga," ujar Hidenori.
Devi, Mahasiswa Bahasa Jepang Sekolah Vokasi UGM, sangat antusias mengikuti workshop Shibori di acara Jogja Japan Week 2015.
Walaupun baru pertama belajar menggunakan Shibori, dan agak kesusahan mengikat kain, tetapi ia mampu membuat motif yang cukup bagus.
Ia mengungkapkan, teknik Shibori ini serupa dengan teknik membatik dari Indonesia.
"Bagus sekali, Kita jadi tahu budaya dari Jepang, teknik Shibori yang sebenarnya mirip dengan teknik membatik celup di Indonesia," ujar Devi, mahasiswa bahasa jepang, Sekolah Vokasi UGM.
Fitriani Furoda, Ketua Panitia Jogja Japan Week 2015, menuturkan, workshop Shibori ini adalah satu dari serangkain acara di Jogja Japan Week 2015.
Ia mengatakan, acara ini sebagai ajang pertukaran budaya antara dua negara, Jepang dan Jogja.
Ia mengatakan, kedua negara saling memperkenalkan budayanya, mencontoh filosofi budaya dari Jepang, seperti Shibori yang di Jepang masih tetap dilestarikan, sehingga dapat dicontoh masyarakat Indonesia untuk tetap menjaga kelestarian budayanya, salah satunya seperti Batik.
"Acara ini sebagai ajang memperkenalkan budaya masing-masing. Kita bisa belajar banyak hal dari Jepang, seperti teknik tradisional Shibori dan budaya-budaya lainnya, yang masih tetap dilestarikan, sebagaimana halnya budaya-budaya kita," ujar Fitriani, di Jogja Japan Week 2015, Jumat (4/9), di GSP UGM. (tribunjogja.com)
Makan siang di kantor? Delivery makanan area Jogja aja, klik makandiantar.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/teknik-pewarnaan-jepang_20150905_002658.jpg)