Shibori, Teknik Pewarnaan Kain dari Jepang yang Serupa Batik

Nakanishi, seniman Shibori dari Jepang ini memperagakan cara pembuatan bahan pewarna indigo, dan teknik pewarnaan Shibori yang terbilang cukup mudah.

Penulis: Rendika Ferri K | Editor: oda
tribunjogja/rendikaferrik
Sensei Nakanishi Hidenori, sedang mengaduk larutan pewarna alami dari daun Tarum untuk mewarnai kain-kain dengan teknik Shibori, di Jogja Japan Week 2015, Jumat (4/9). 

Hidenori bercerita, teknik Shibori ini sudah digunakan sejak zaman kekaisaran Jepang beberapa ratus tahun yang lalu. Ia bertutur, pewarna alami ini bahkan dapat bertahan selama 600 tahun lamanya.

Selain dari bahan alami, kain dengan Shibori tahan lama.

Ada sebanyak 560 teknik ikatan dalam pewarnaan Shibori. Ada yang berbentuk kotak, bermotif bunga, sampai motif-motif rumit dengan metode pengikatan yang lebih rumit.

"Kain dengan pewarnaan Shibori ini bisa bertahan 600 tahun lamanya," ujarnya.

Hidenori bercerita, teknik pewarnaan Shibori ini hampir sama dengan teknik pewarnaan asli Indonesia, Batik.

Namun yang membedakan, pembuatan pola Shibori dengan teknik mengikat, sedangkan batik adalah dengan mencanting dengan lilin.

Ia mengatakan, Batik tak kalah pentingnya dengan Shibori, yang merupakan warisan budaya nenek moyang yang semestinya tetap terus dijaga kelestariannya.

"Di Negara kami (Jepang), Sharusa, yang tak lain adalah batik dari Jepang. Batik ini hampir serupa dengan Shibori, sesuatu hal yang penting, warisan yang penting dari nenek moyang dan harus dijaga," ujar Hidenori.

Devi, Mahasiswa Bahasa Jepang Sekolah Vokasi UGM, sangat antusias mengikuti workshop Shibori di acara Jogja Japan Week 2015.

Walaupun baru pertama belajar menggunakan Shibori, dan agak kesusahan mengikat kain, tetapi ia mampu membuat motif yang cukup bagus.

Ia mengungkapkan, teknik Shibori ini serupa dengan teknik membatik dari Indonesia.

"Bagus sekali, Kita jadi tahu budaya dari Jepang, teknik Shibori yang sebenarnya mirip dengan teknik membatik celup di Indonesia," ujar Devi, mahasiswa bahasa jepang, Sekolah Vokasi UGM.

Fitriani Furoda, Ketua Panitia Jogja Japan Week 2015, menuturkan, workshop Shibori ini adalah satu dari serangkain acara di Jogja Japan Week 2015.

Ia mengatakan, acara ini sebagai ajang pertukaran budaya antara dua negara, Jepang dan Jogja.

Ia mengatakan, kedua negara saling memperkenalkan budayanya, mencontoh filosofi budaya dari Jepang, seperti Shibori yang di Jepang masih tetap dilestarikan, sehingga dapat dicontoh masyarakat Indonesia untuk tetap menjaga kelestarian budayanya, salah satunya seperti Batik.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Tags
Jepang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved