Dinkes Himbau Tetap Waspadai DBD di Musim Kemarau
Seluruh masyarakat dihimbau tetap waspada terhadap penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypte ini meski musim kemarau.
Penulis: tiq | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Pristiqa Ayun Wirastami
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Demam Berdarah Dengue (DBD) memang merupakan penyakit yang kerap muncul di musim hujan. Tetapi tak menutup kemungkinan, bisa muncul juga saat musim kemarau tiba.
Oleh karena itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta pun menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk tetap waspada terhadap penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypte ini meski saat ini sedang memasuki musim kemarau.
Endang Sri Rahayu, Kepala Seksi Pengendalian Penyakit (P2) Dinkes Kota Yogyakarta memaparkan bahwa tahun ini kasus DBD yang terjadi di Kota Yogyakarta sejak bulan Januari kemarin hingga Kamis (5/8/2015) sudah mencapai 813 kasus.
Dari jumlah kasus tersebut, penderita DBD yang meninggal dunia ada 9 orang. Jumlah ini naik dua kali lipat dibandingkan tahun 2014 lalu yang hanya 417 kasus dalam setahun.
"Kenaikan kasus DBD ini dikarenakan tahun ini memang merupakan siklus lima tahunan penyakit DBD. Sehingga meski sudah memasuki musim kemarau, masyarakat harus tetap waspada," jelas Endang.
Lalu jika dibandingkan siklus DBD lima tahun lalu pada 2010, jumlah kasus yang terjadi adalah 1500 kasus DBD. Jumlah pasien yang meninggal dunia pun diperkirakan sama dengan tahun ini.
Endang juga menjelaskan, tahun ini hampir seluruh Puskesmas di Kota Yogyakarta sudah menangani kasus DBD. Seperti misalnya Puskesmas Kotabaru yang tahun sebelumnya tidak menangani kasus DBD, tahun ini pun turut menangani.
Sedangkan Puskesmas yang kasus DBDnya cukup banyak ada di Puskesmas Umbulharjo dan Gondokusuman.
"Meski intensitas hujan sudah rendah, tapi masyarakat jangan lengah terhadap keberadaan genangan air. Harus terus tetap waspada," ujar Endang.
Selain DBD, penyakit infeksi pernapasa atau ISPA juga menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai saat musim kemarau.
Bahkan ISPA masuk dalam 10 besar penyakit yang paling banyak ditangani di Puskesmas. Namun hingga saat ini, masih belum ditemukan pasien penderita ISPA yang meninggal dunia.
Sementara untuk obat-obatan bagi penyakit ISPA, Dinkes Kota Yogyakarta memastikan stok obat di setiap Puskesmas Kota Yogyakarta tersedia. UPT Farmasi dan Alat Kesehatan Kota Yogyakarta selalu melakukan kerjasama dengan Puskesmas dalam hal penyediaan obat sesuai kebutuhan Puskesmas.
Dinkes Kota Yogyakarta pun terus menghimbau kepada masyarakat untuk selalu menggunakan pelindung diri saat bepergian, seperti misalnya masker dan jaket.
Selain itu meski udara dingin dan tubuh tidak gampang dehidrasi, namun konsumsi air putih 8 gelas sehari sangat disarankan.
Sementara Kepala Puskesmas Jetis Kota Yogyakarta, Ira Rasmasari mengatakan meski sudah memasuki masa lima tahunan siklus DBD, tetapi jumlah pasien DBD di Puskesmas Jetis mengalami penurunan. Bulan Agustus ini, jumlah pasien sudah banyak menurun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Sejak akhir bulan puasa yang lalu hingga kemarin, tercatat hanya ada tiga orang pasien DBD yang memeriksakan diri ke Puskesmas Jetis Kota Yogyakarta.
Hal ini dikarenakan, sudah ada kesepakatan bersama di tingkat Kelurahan, Kecamatan, serta RT dan RW setempat untuk bersama-sama menjaga lingkungan agar lebih terjaga dari ancaman DBD.
"Sejak bulan puasa kemarin, masyarakat setempat sudah membuat community deal untuk sama-sama menjaga wilayah dari ancaman demam berdarah. Salah satunya tentu dengan melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan," kata Ira.
Selama ini, lanjutnya, jika ada pasien datang ke puskesmas dan menunjukan gejala DBD, maka pihak Puskesma segera melakukan pemeriksaan awal secara menyeluruh.
Jika gejalanya positif mengarah DBD, maka segera dirujuk ke rumah sakit.
"Puskesmas melakukan pemeriksaan awal, penanganan lebih lanjut di rumah sakit," tandasnya. (Tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/demam-berdarah_2703.jpg)