Kembar Bersaudara Sukses Ciptakan Alat Sensor Lahar Dingin

Ketut Shri Stya Yogananda, siswa SMP 8 Yogyakarta, menciptakan sebuah alat pendeteksi bencana lahar dingin secara cepat dan mudah

Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Rendika Ferri Kurniawan
Yoga, siswa SMP N 8 Kota Yogya memperagakan cara kerja Sensor Lahar Dingin temuannya bersama dua teman sekolahnya, di Taman Pintar, Rabu (29/7/2015). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bencana lahar dingin yang kerap melanda Yogya dan sekitarnya, membawa kerugian yang begitu besar. Meksi bahaya yang ditimbulkan sangat besar, namun masih alat peringatan terhadap bencana ini masih kurang.

Berawal dari keprihatinan tersebut, Ketut Shri Stya Yogananda, siswa SMP 8 Yogyakarta, menciptakan sebuah alat pendeteksi bencana lahar dingin secara cepat dan mudah.

Alat yang diberi nama, Sensor Lahar Dingin, dikerjakan oleh Yoga bersama saudara kembar laki-lakinya, Ketut Shri Satya Wiweka Nanda, serta teman sekolahnya, Gede Chandra Wira Kusuma, dan dibimbing oleh dosen Teknik UGM, I Nengah Sumeti.

Hanya dalam jangka waktu lima bulan, Sensor Lahar Dingin tersebut berhasil diselesaikan oleh Yoga bersama kedua rekannya.

Semenjak kelas tujuh SMP, Yoga bersama rekannya telah mengembangkan alat ini, namun proses pengembangan tertunda sampai kelas sembilan, baru alat ini dapat disempurnakan.

Bahan-bahan yang dipakai untuk membuat alat pun mudah ditemukan.

Bahan-bahan seperti peralon untuk tabung sensor, seng untuk sirip, dan tiga buah tembaga di dalam tabung untuk konduktor yang akan menyambung ke dalam sensor.

Satu tembaga untuk poros baling, sedangkan dua tembaga untuk konduktor listrik.

Prinsip kerja yang diterapkan pada alat ini adalah seperti saklar. Ketika lahar dingin melanda, secara langsung debit air serta ketinggian air sungai akan meningkat.

Arus yang kuat akan memutar sirip/baling tabung, dan konduktor tembaga akan tertempel dan mengalirkan arus listrik yang dialirkan ke sirine.

Daya listrik yang dipakai oleh sensor lahar dingin menggunakan aki kecil, dan untuk tanda bahayanya menggunakan sirine. Relay juga dibubuhkan untuk mencegah korsleting listrik ketika alat berada di air.

Sensor juga diselubungi oleh tabung logam untuk menahan supaya sensor tak hanyut terbawa arus.

Sensor Lahar Dingin ditempatkan di dinding pemecah arus, lalu hanya sayap/sirip sensor yang akan terlihat, sehingga sensor dapat terlindungi.

Selain mudah digunakan, biaya pembuatan alat ini pun relatif murah. Hanya perlu selongsong peralon dengan diameter kurang lebih 20 cm, logam seng, logam tembaga, kabel, aki, relay dan sirine.

Yoga pun mengaku hanya menghabiskan dana sekitar Rp400.000 untuk satu sensor.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved