Kaila Menari Line Dance Bersama Keluarga
Festival Seni dan Kirab Budaya Prawirotaman, yang diselenggarakan oleh Paguyuban Pengusaha Pariwisata Prawirotaman Yogyakarta (P4Y)
Penulis: abm | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Badannya dengan lenturnya melenggok. Ia menari di depan ratusan wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.
Sesekali sambil menari, ia pun mengirimkan senyuman kepada para penonton yang melihat
Hal tersebut terlihat ketika Kaila Arlen Nasira (10) menari Line Dance dihadapan ratusan wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara, dalam acara Festival Seni dan Kirab Budaya Prawirotaman, yang diselenggarakan oleh Paguyuban Pengusaha Pariwisata Prawirotaman Yogyakarta (P4Y), Minggu (26/07), dari pukul 08.00 hingga 24.00 WIB, disepangjang Jalan Prawirotaman.
Kaila bersama kakek, ibu, bibi dan sepupunya menari layaknya penari professional. Kaila terlihat sangat hafal semua gerakan dari Line Dance, sehingga tidak ada kesalahan ketika ia menari bersama keluarganya tersebut.
Ia mengaku baru 10 kali berlatih tarian tersebut. Namun entah mengapa Line Dance tersebut ia akui begitu mudahnya dipelajari dalam waktu sesingkat itu.
“Aku baru 10 kali latihan dan diajari sama kakek dan ibu. Awalnya Cuma lihat Kakek menari, tapi aku jadi tertarik buat ikut belajar tariannya juga. Ya udah langsung belajar. Kebetulan waktu itu sedang latihan buat acara Festival sekarang,” tutur Kaila.
Kaila mengaku sangat senang ketika bisa menari bersama keluarganya. Ia pun bingung, entah apa yang membuatnya bisa dengan cepat menarikan tarian tersebut.
Ia mengatakan, bahwa dirinya sangat senang bisa menari, dan akan terus belajar dan menggeluti dunia tersebut.
“Kaila sangat cepat belajar Line Dance, hanya 10 kali latihan saja disudah menguasai semua gerakan dalam tariannya itu. Saya juga heran mengapa bisa secepat ini. Kebetulan saya sudah 15 tahun ini menggeluti dunia tari, dan lebih fokus ke Line Dance ini,” tutur Bambang Setiawan (52), Kakek dari Kaila yang juga ikut menari dihadapan wisatawan yang hadir dalam festival tersebut.
Ia mengatakan, jika Kaila ingin menggeluti dunia tari tersebut. Sebagai seorang Kakek, Bambang akan terus mendukung cucunya tersebut untuk terus mempelajari dan mendalami dunia tari.
Selama cucunya ingin melakukan banyak hal, selagi itu merupakan hal yang positif, ia akan terus mendukugnnya.
“Line Dance adalah menari dalam satu garis. Baru-baru ini banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Namun untuk saya sendiri tampil di festival ini baru tiga tahun terakhir ini. Asal mulanya tarian ini kalau waktu dulu ada Poco-poco, kemudia ada Tepe-tepe, itu termasuk Line Dance, karena ditarikan secara bersama-sama dalam satu garil lurus dengan gerakan yang sama, dan menggunakan irama dansa, namun bisa menggunakan irama lainnya juga,” ujar Bambang.
Bambang mengatakan, dengan Line Dance ini pun ia bisa mendapatkan mata pencahaian yang baru setelah pensiun dari sebuah perusahaan BUMN tempat bekerjanya dulu.
Ketika ia berusia 50 tahun, ia baru saja memulai hobi barunya tersebut, dan ternyata dunia tari membuatnya jatuh cinta. Dari rasa jatuh cintanya tersebut, Kakek berusia 65 tahun ini akhirnya fokus mempelajari salah satu jenis tarian tersebut.
“Kebetulan saya dari dulu senang berolahraga. Dan ini saya jadikan untuk berolahraga, agar tubuh semakin bugar walaupun di usia 65 tahun ini. Saya juga tidak menyangka bisa banyak orang yang ingin saya ajari Line Dance ini. Saya sih tidak berharap dibayar, namun selalu ada yang memberikan. Ya itu rezeki, saya tidak boleh ditolak,” ujarnya.