Kebakaran Hutan Masih Tinggi, Pemerintah Giatkan Hujan Buatan
BNPB mengalokasikan 40 milyar rupiah untuk membuat hujan buatan dan mengatasi karhutla.
Penulis: khr | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Khaerur Reza
TRIBUNJOGJA.COM - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan makin meningkat akibat adanya pengaruh El Nino moderat yang menyebabkan kondisi cuaca lebih kering dan musim kemarau lebih panjang hingga November 2015. BNPB mengalokasikan 40 milyar rupiah untuk membuat hujan buatan dan mengatasi karhutla.
"Biaya ini sebagian besar untuk operasional pesawat terbang," terang Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya Minggu (12/7/2015).
BNPB bersama BPPT, Kementerian LHK dan TNI AU terus melaksanakan hujan buatan di Riau dan Sumatera Selatan. Di Riau hujan buatan dilakukan sejak Senin (22/6/2015) sampai sekarang dengan pesawat CN-295 TNI AU, denhan menaburkan sebanyak 36,5 ton garam (NaCl) sebanyak 21 kali penerbangan. Di Sumsel, hujan buatan dilakukan sejak Kamis (9/7/2015) dengan menggunakan pesawat Casa 212-200 Pelita Air Service dengan menaburkan 5 ton garam.
Pantauan satelit Modis pada Minggu (12/7/2015) ada 237 hotspot di Sumatera yaitu 167 hotspot di Riau, 37 di Sumatera Utara, 14 di Sumtera Selatan, 18 di Jambi dan 1 di Lampung. Asap telah menyebabkan jarak pandang turun, di Pekanbaru jarak pandang hanya 3 km, di Dumai 1 km dan Pelalawan 3 km.
"Kualitas udara di Kota Pekanbaru juga sudah masuk dalam kategori tidak sehat," tambahnya.
Jika tidak diantisipasi dengan baik, bencana asap seperti yang terjadi tahun 2014 dapat berulang kembali dan menimbulkan dampak besar. Kerugian ekonomi akibat karhutla di Riau pada Februari-April 2014 mencapai sekitar 20 triliun, 2.398 hektar cagar biosfer terbakar, 21.914 hektar lahan terbakar, 58.000 orang menderita ISPA, dan sekolah diliburkan. (*)