Perjuangan Pilu Janda Besarkan Dua Anaknya di Gubuk Reyot
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Atun yang kini hanya sibuk mengasuh kedua anaknya dan tidak bekerja mengandalkan bantuan makanan
Penulis: apr | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Sebuah gubuk dari kayu seluas kurang lebih dua meter persegi akan terlihat ketika melewati perlintasan kereta api di Dusun Tapen RT 14, Argorejo, Sedayu. Di gubuk ini tinggal Zuniatun (35) bersama kedua anaknya yang masih kecil.
Terletak sekitar 40 meter di barat rel kereta api, lantai dalam gubuk tanpa pintu tersebut hanya ada sebuah kasur lapuk tanpa dipan tempat Atun dan kedua anaknya tidur.
Berbagai baju juga berserakan di atas kasur. Hanya ada sedikit barang di dalamnya. Sebuah Alquran nampak teronggok di atas tumpukan baju, ada juga buku tulis anak keduanya, Afrian Noor Damayanto (5).
Saat Tribun Jogja datang, ia sedang asyik belajar menulis ditemani ibunya.
"Sekarang sudah mulai masuk TK ini Afri," jelasnya pada Selasa (7/7/2015) sambil menggendong anak ketiganya, M Rizky Agung Trianto (19 bulan).
Anak pertamanya Muhammad Irfan Saifurrohman yang kini telah menginjak kelas 4 SD kini tinggal bersama neneknya di Polaman, Sedayu.
Atun menceritakan, gubuk yang ditinggalinya dibuat olehnya sendiri. Lahan tempatnya membangun gubuk sebenarnya adalah tanah milik ayahnya dan tempatnya lahir.
"Waktu ada gempa (tahun 2007) ambruk, dan ditinggal ke Polaman semua, tempat ibu saya," tuturnya.
Sebelum gempa, Atun sempat merantau ke Malaysia untuk bekerja, di sana ia bertemu Gabriel, seorang pria asal NTT dan menikah siri dengannya.
Bersama suaminya, Atun sempat tinggal di Polaman dan memiliki tiga anak.
Setelah hidup bersama sekian tahun dan tidak berhasil mengurus pernikahan secara resmi, keduanya memutuskan hidup sendiri-sendiri.
"Saya sekarang tidak dinafkahi, anak-anak juga tidak pernah dikasih duit," ujar Atun.
Atun pun kemudian ingin tinggal di rumah sendiri di bekas rumahnya dulu yang telah ambruk di Tapen. Karena kurangnya dana, Atun belum bisa membangun rumah secara permanen.
Di dekat gubuknya baru ada pondasi rumah yang belum jadi.
"Gubuknya saya bikin sendiri rencananya dulu buat dapur, pondasi ini dari bapaknya tapi kehabisan bahan belum selesai," ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/atun_0907_20150709_115221.jpg)