Pengidap HIV/AIDS di DIY Masih Tinggi
Merujuk data kasus HIV AIDS DIY periode 1994 sampai 2014, selama lima tahun terakhir, jumlah ODHA di DIY mengalami kenaikan dari tahun ke tahun
Penulis: Rendika Ferri K | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - KPA DIY mengungkapkan data-data jumlah penderita HIV/Aids (ODHA) di DIY. Rilisan ini dikemukakan pada acara temu media pada Senin (15/6/2015) di Jogja Kopitiam, Jalan Sosrowijayan, Malioboro, Yogya.
Perwakilan KPA DIY, Ruri, menuturkan, dalam data yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan DIY, dirilis jumlah penderita penyakit menular HIV/Aids atau biasa disebut ODHA di DIY setiap tahunnya.
Jumlah ODHA tampak fluktuatif setiap tahunnya, namun di tahun terakhir 2014 mengalami kenaikan.
Merujuk data kasus HIV AIDS DIY periode 1994 sampai 2014, selama lima tahun terakhir, jumlah ODHA di DIY mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2010, penderita HIV/AIDS sebesar kurang lebih 131 orang.
Selama empat tahun terakhir mengalami kenaikan berturut-turut, pada tahun 2011 tercatat 193 orang, 2012 sebesar 432 orang, dan 2013 sebanyak 501 orang.
Namun, pada tahun 2014, terjadi penurunan namun tidak signifikan, tercatat sebanyak 491 orang.
"Semakin banyak ditemukan bisa jadi semakin baik. Maksudnya, penemuan kasus-kasus HIV/AIDS ini semakin banyak terungkap, sehingga untuk kasus-kasus yang baru, penanganan dapat cepat segera dilakukan. Dalam rangka penganggulangan, kami (KPA) DIY, dirasa sudah cukup maksimal," ujar Ruri.
Mohamad Zaenal Abidin, Kepala ruang poli edelweis, RSUP Sardjito, menuturkan,rata-rata jumlah kunjungan pasien sebanyak 30-40 pasien setiap hari di Poli Edelweiss RSUP Sardjito.
Jumlah ini sangat tinggi dibanding tahun 2005 silam yang hanya 10 kunjungan per tahun.
Ia menuturkan terdapat kurang lebih 1600 pasien yang mengikuti terapi pengobatan dengan ARV. Namun hanya sekitar 600 pasien yang aktif mengkonsumsi obat.
"Ada 1600 yang mengkonsumsi obat, 600 diantaranya masih aktif. Namun 1000 pasiennya yang pernah memulai, ada yang meninggal dunia dan ada yang berhenti," ujar Zaenudin.
Terkait kenaikan penemuan kasus ini, Zaenudin menuturkan ada dua sisi, antara kampanye HIV/AIDS yang belum efektif namun bisa juga penemuan kasus baru terkait penjangkauan membuahkan hasil.
Penularan penyakit HIV/AIDS didominasi oleh kalangan Lelaki Seks Lelaki dibanding heteroseksual.
"Saat ini kasus HIV Aids ini,Indonesia sudah menduduki posisi lima besar di asia, dan peringkat 8 terbanyak di Indonesi," ujarnya. (tribunjogja.com)