Pameran Batu Akik di JEC
Sukman Jualan Akik Keliling Indonesia
Sukman (49) warga Bontang Kalimantan Timur sempat berkeliling ke beberapa tempat di Indonesia hingga sampai di Yogyakarta
Penulis: khr | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Khaerur Reza
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tren batu akik yang sedang melanda Indonesia memang menggiurkan banyak orang untuk terjun ke dunia bebatuan tersebut.
Hal itu pula yang membawa Sukman (49) warga Bontang Kalimantan Timur sempat berkeliling ke beberapa tempat di Indonesia hingga sampai di Yogyakarta.
“Saya sudah dari tanggal 17 Mei pergi dari rumah untuk keliling mengikuti pameran-pameran mulai Batam sampai sekarang di Jogja,” ceritanya ketika ditemui di stand-nya yang ada di acara pameran batu akik ‘Gelegar Batu Nasional' di pelataran Jogja Expo Center, Jl Janti Yogyakarta Rabu (3/6/2015).
Pria yang sudah lama menggeluti bisnis batu akik tersebut memulai perjalanannya dengan mengikuti pameran batu akik yang ada di Batam, Kepulauan Riau lalu ke Surabaya jawa Timur lalu ke Bali dan sekarang sampai di Yogyakarta.
Untuk mengetahui adanya pameran di beberapa daerah yang berjauhan tersebut dirinya mencari sendiri informasi di internet dan juga dari para koleganya sesama penggemar batu akik.
“Di Jogja ini saya juga dapat infonya dari internet kok,” papar Sukman.
Berkeliling ke tempat-tempat yang jauh tentu saja membutuhkan dana yang tidak sedikit. Namun diakuinya selama ini antara pendapatan dan pengeluaran lebih banyak pendapatan.
Tren batu akik yang sampai saat ini masih tetap tinggi sangat dirasakannya. Bahkan ketika melakukan pameran di Batam selama 3 hari saja dirinya mampu meraih omzet hingga 40 juta rupiah.
“Untuk di Yogyakarta ini saya menargetkan dapat 20 (juta),” ujarnya.
Untuk itu dia menyiapkan sekitar 20 kg batu akik dari berbagai jenis teruatama yang khas dari daerahnya.
Antara lain berbagai macam batu Borneo dari merha sampai hijau, batu Kecubung susu, lapis bontang serta fosil kayu ulin. Batu-batu yang dijualnya berada di kisaran harga 100 ribu - 2 juta rupiah.
Ketika batu miliknya habis, ia biasanya meminta koleganya yang ada di Bontang untuk mengirimkan melalui paket ekspedisi. Sekali mengirim biasanya sekitar 20 kg dari berbagai jenis dan ukuran.
"Soalnya yang lebih laku yang bongkahan daripada yang sudah jadi, mungkin biar mereka bebas membentuknya atau agar bisa diberikan untuk orang lain agar sama," tuturnya. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/batu-akik_0206_8_20150602_215101.jpg)