Jogja Kreatif

Si Cantik Finalis Dimas Diajeng yang Jago Taekwondo

Lia Karina Mansur (23) adalah seorang pemegang sabuk hitam dan 2 yang juga peraih medali perak pada Sea Games 2011 Palembang

Penulis: khr | Editor: Ikrob Didik Irawan
Si Cantik Finalis Dimas Diajeng yang Jago Taekwondo
Tribun Jogja/Khaerur Reza
Lia Karina Mansur (23)

Laporan Reporter Tribun Jogja, Khaerur Reza

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Seorang wanita dengan seragam taekwondo lengkap dengan sabuk hitamnya nampak piawai mengayunkan pukulan dan tendangannya kepada para pria iseng yang mengganggunya di jalan Jenderal Sudirman Yogyakarta Minggu (17/05/2015) pagi.

Aksi heroik tersebut adalah salah satu aksi dari 30 finalis Dimas Diajeng Yogyakarta 2015 dalam acara talent show yang dilakukan di acara Jogja Kreatif #24 Education Day pagi.

Tidak heran jika diajeng yang biasanya terkenal dengan kecantikan dan kelembutannya mampu tampil garang ternyata salah satu finalis tersebut adalah atlet Taekwondo Nasional.

Lia Karina Mansur (23) adalah seorang pemegang sabuk hitam dan 2 yang juga peraih medali perak pada Sea Games 2011 Palembang.

Perempuan yang akan menjalani wisuda Juni besok di Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY ini juga saat ini sedang menjalani latihan intensif sebagai anggota tim taekwondo Yogyakarta untuk mengikuti Pra-Pon 2015.

“Sekarang makin padat kegiatannya sejak ikut dimas diajeng ini sampai sering ditanyain pelatih (taekwondo) untungnya kuliahnya udah selesai,” ceritanya.

Kesibukannya dalam taekwondo terutama karena mengikuti pelatnas di Jakarta pula yang membuat waktu kuliahnya molor sampai 5 tahun.

Dirinya sempat mengambil cuti kuliah untuk fokus pada pelatnas taekwondo, sebelum akhirnya memfokuskan diri pada penyelesaian studinya.

“Sekarang sedang gak ikut pelatnas, karena kemarin fokus menyelesaikan kuliah. Saat ini cuma sedang latihan Pra-Pon 2015,” ceritanya.

Kemampuan taekwondo yang sempat mengantarnya mengikuti pra olimpiad di Azerbaijan tersebut ternyata sudah terlatih sejak umur 9 tahun.

Lahir dari keluarga olahragawan dimana ayahnya adalah seorang mantan atlet voli dan ibunya seorang instruktur senam membuatnya sudah akrab dengan dunia keolahragaan sejak kecil.

Sempat mencoba beberapa cabang olahraga seperti renang, atletik dan basket akhirnya Lia menemukan olahraga yang tepat pada taekwondo.

Menjadi salah satu dari 30 finalis dimas diajeng jogja juga sebelumnya tidak pernah dibayangkan olehnya, apalagi di awal pendaftaran dirinya hanya iseng karena disuruh oleh salah seorang temannya.

“Pertama gak pede lihat yang ndaftar cantik-cantik dan genteng semuanya, tapi akhirnya dijalanin saja gak nyangka bisa lolos jadi 30 finalis,” ujarnya.

Walaupun kini kesibukannya makin bertambah seiring keikutsertaan pada dua ajang besar, namun Lia tetap memikirkan pendidikannya. Dia sedang berencana melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

“Pinginnya nanti jadi dosen,” tuturnya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved