BPBD Minta Semua Pihak Introspeksi Diri
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah menglasifikasi dampak kerusakan akibat bencana banjir
Penulis: had | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah menglasifikasi dampak kerusakan akibat bencana banjir yang terjadi pekan lalu.
Antaralain akses jalan raya, Sumber Daya Air (bendung, talud, sungai), permukiman (listrik, sumur, sanitasi), dan pertanian.
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Gatot Saptadi mengungkapkan, dirinya tidak mengira jika bencana banjir yang disebabkan oleh hujan deras hanya beberapa jam saja, mengakibatkan kerusakan yang cukup besar.
Menurutnya, semua pihak perlu interospeksi diri.
“Kita harus introspeksi diri ternyata dengan hanya kondisi ini, infrastruktur kita sudah tua ada yang belum kuat,” katanya saat ditemui usai menggelar rapat koordinasi dengan pihak terkait, di kantor Pusdalops BPBD DIY, Senin (27/4/2015).
Ia mencontohkan di antaranya adalah talud di sejumlah sungai di Kota Yogyakarta. Gatot juga terheran mengapa setiap ada banjir selalu saja ada talut yang ambrol. Begitupula banyak infrastruktur yang sudah tua dan tidak lagi memenuhi daya tampung.
“Contohnya bendung Siluk di Kecamatan Kretek (Kabupaten) Bantul, itu memang tahun ini rencananya akan diganti tapi sudah terlebih dahulu jebol,” ujarnya.
Sejauh ini, kerusakan infrastruktur jenis Sumber Daya Air (SDA) yang telah terata oleh BPBD DIY antaralain, di Sleman ada tujuh bendung, Bantul ada 50 titik SDA, Kota Yogyakarta terdapat banyak kerusakan talud.
Sedangkan untuk dampak kerusakan terhadap permukiman, antaralain sumur warga yang perlu ada treatment penjernihan air. Sedangkan untuk terhadap rumah yang rawan bencana longsor, akan dilakukan relokasi, namun hal ini akan disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten dan Kota.
“Penanganan atas infrastruktur yang rusak itu kalau bisa ditangani dengan penanganan darurat dulu jangan permanen, yang penting bisa berfungsi dan diakses masyarakat. SDA juga jangan permanen dulu,” katanya.
“Kita besok pagi (hari ini) akan melaporkan semuanya ke Gubernur. Untuk bagamana selanjutnya, ya menunggu keputusan Gubernur,” sambung Gatot.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan ESDM (PUP-ESDM) DIY, Rani Sjamsinarsi mengungkapkan, pihaknya sudah menghitung dampak kerusakan dan anggaran perbaikan untuk jembatan dan jalan provinsi.
Diperkirakan dari penghitungan terhadap lima lokasi atas jembatan dan talud bahu jalan mencapai Rp 7,3 miliar. Dari jumlah tersebut, untuk anggaran pemasangan jembatan darurat balley sepanjang 21 meter di jembatan Pules sebesar Rp 51 juta. Sedangkan perbaikan dan pembuatan jembatan mencapai Rp 4,2 miliar.
“Jembatan pules kemungkinan dua atau tiga hari ini sudah bisa dilalui (jembatan balley di pules),” ujarnya.
Kemudian untuk biaya kerusakan irigasi atau bendung di Dadapan, Pulodadi, Sidoraharjo, Sidoraharjo dan Glendongan sebesar Rp 3,7 miliar. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/jembatan-ambrol_2304_20150423_124908.jpg)