Konferensi Wanita Buddha 2015 Digelar di DIY
Organisasi internasional wanita Buddhis, akan menggelar konferensi Sakyadhita ke-14 tahun 2015 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
Penulis: had | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, M Nur Huda
TRIBUNJOGA.COM, YOGYA - Organisasi internasional wanita Buddhis, akan menggelar konferensi Sakyadhita ke-14 tahun 2015 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Rencananya, konferensi tersebut akan digelar pada 23-30 Juni 2015.
Konferensi yang mengangkat tema “Welas Asih dan Keadilan Sosial” ini akan dilaksanakan di sebuah hotel di daerah Kabupaten Sleman. Dan juga menggelar kegiatan ibadah di sejumlah candi budha.
Menurut Ketua I Pengurus Pusat Wanita Buddhis Indonesia, Padmadevi, usai melakukan audiensi dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Gedhong Wilis Kepatihan, Selasa (28/4/2015) mengatakan, direncanakan konferensi akan dihadiri 1.000 peserta.
Mereka berasal dari 25 provinsi di Indonesia. Sedangkan peserta dari luar negeri, berasal dari 45 negara di belahan dunia.
“Kami memilih Jogja karena Jogja sebagai kota budaya. Di Jogja dan Jawa Tengah juga banyak sekali Buddhis heritage yang bisa kita perkenalkan kepada teman-teman internasional," katanya.
Menurutnya, Yogyakarta merupakan wilayah yang memiliki budaya pluralisme dan mengedepankan keramahan. Maka, pihaknya ingin menunjukkan pada dunia internasional, bahwa Indonesia adalah negara yang ramah.
"Kita ingin memperlihatkan Indonesia dari sisi perdamaian dan pluralisme. Karena banyak sekali teman-teman di luar, melihat indonesia lebih banyak dari sisi negatif. Jadi kita ingin menunjukkan Indonesia dari sisi kehidupan sesungguhnya," kata Padmadevi.
Pada audiensi ini pendiri Sakyadhita, Bikhuni Karma Lekshe Tsomo yang juga profesor Universitas San Diego Amerika, memberikan cinderamata kepada Gubernur.
Hadir mendampingi Gubernur yaitu kepala DPPKA DIY, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, dan Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata DIY.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Umar Priyono mengatakan, sebelumnya mereka memilih Bali sebagai penyelenggaraan acara. Namun akhirnya menetapkan Yogyakarta, karena dinilai lebih memiliki culture value yang tidak dimiliki Bali.
"Kalau Bali kan tinggi di Hindu culture-nya, sedangkan Jogja cukup lengkap, ditandai ada situs yang bersifat hindu dan budha. Jadi di mata dunia, Jogja punya positioning," kata Umar.
Menurut Umar, kegiatan ini merupakan yang pertama kali di gelar di Indonesia. Ini juga menjadi ajang promosi budaya bagi Yogyakarta di mata dunia internasional.
"Kami yakin, dampak positifnya akan bagus," ujarnya. (tribunjogja.com)