Trotokan dan Kutilang Punya Potensi Dimastering
Burung Trucukan atau Trotokan dan Burung Kutilang adalah dua diantara banyak burung lokal yang masih digemari pehobi
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pamor burung-burung lokal perlahan terus naik. Entah karena faktor seleksi alam atau penangkapan liar, sehingga burung lokal yang satu mulai banyak diminati sementara populasi burung lokal lainnya yang lebih dulu moncer mulai berkurang. Sebut saja burung Pleci yang belakangan ini diburu para penggemar burung pekicau.
Suka atau tidak, populasi burung Pleci jenis tertentu mulai berkurang. Alhasil, burung lokal lain menjadi alternatif untuk dipelihara, selain dianggap populasinya masih banyak, harga burung-burung lokal ini relatif lebih terjangkau.
Burung Trucukan atau Trotokan (Pycnonotus goiavier) dan Burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster) adalah dua diantara banyak burung lokal yang masih digemari para pehobi. Kebetulan, dua burung ini memiliki postur yang hampir sama karena memang memiliki hubungan kekerabatan yang dekat yakni dari famili Pycnonotidae dan genus Pycnonotus.
Di kalangan pehobi, kicauan burung Trotokan kerap disandingkan dan disamakan dengan burung Cucak Rawa. Hanya saja, volume dan ketebalan suaranya memang tak sekeras dan setebal Cucak Rawa.
Bila kita tinggal di daerah pinggiran kota Yogyakarta dan sekitarnya, masih sering kita jumpai burung ini mondar-mandir di sekeliling lingkungan kita. Tak jarang burung Trotokan terlihat bersama burung Kutilang. Biasanya, tak jauh dari keberadaan burung Kutilang, di situ juga ada burung Trotokan.
Bila diperhatikan dengan seksama, burung yang juga kerap disebut Trucukan ini memiliki suara khas yang tajam serta ramai, itu salah satu yang membedakannya dengan burung Kutilang.
Salah satu pehobi burung yang tengah gandrung dengan Trotokan adalah Wendiarto, pehobi asal Yogyakarta. Bagi Wendi, kicauan burung ini begitu mirip dengan Cucak Rawa dan diistilahkan dengan Cucak Rawa mini. Selain itu, harganya yang terjangkau membuat burung ini menjadi pilihan alternatif di antara burung kicauan yang tengah moncer berbanderol tinggi.
"Langgamnya mirim dengan Cucak Rawa. Kalau ngeroll harganya juga bisa tinggi," ujar Wendi.
Lanjut Wendi, memilihara burung ini lebih dari satu bisa memancing berkicau bersahutan. Bila beruntung, bisa memelihara dari bakalan yang masih diloloh (disuap), Trotokan juga bisa diisi suara burung lain seperti, suara Prenjak, Cucak Ijo dan Cucak Jenggot.
Tujuh Tahun
Bila dipelihara dalam sangkar, usia burung ini bisa mencapai sekitar tujuh tahun. Karakter burung ini bila sudah berusia di atas 4 tahun, volume suaranya semakin keras. Orang Jawa menyebutnya "Klok-Klik-Kluk". Untuk harga bakalan berkisar Rp 35 ribu, yang sudah bunyi harganya bervariasi tergantung bunyinya, sekitar Rp 150 ribu, bahkan yang sudah bagus ada yang jual sampai Rp 1,5 juta di online.
Populasi burung ini masih banyak di temukan di wilayah sekitar pinggiran Yogya seperti Sleman, Wonosari, Kulonprogo, selain itu banyak juga di daerah Wonosobo, Sumedang dan Jawa Timur.
Sementara itu, meskipun masih di pandang sebelah mata, burung Kutilang layak mulai dipertimbangkan sebagai alternatif burung peliharaan seperti halnya burung Trotokan. Mungkin potensi kicauan Kutilang bisa dilatih agar mampu menonjolkan suara khasnya.
Tak dipungkiri memang, burung Kutilang terlanjur dianggap sebagai burung remeh temeh, ibarat lomba menyanyi, salah satunya mungkin lantaran modal suaranya yang pas-pasan. Namun tak ada ruginya bila mulai berusaha mencetak burung Kutilang handal. Salah satu caranya bisa merawat burung dari kecil atau lolohan.
Di Indonesia, ada beberapa jenis Kutilang selain kutilang biasa (Pycnonotus aurigaster). Ada dua burung berkerabat dekat yang juga memiliki sebutan kutilang yakni Kutilang sutera atau cucak Kurincang (Pycnonotus atriceps) dan Kutilang Mas atau Cucak Kuning (Pycnonotus melanicterus). Di pulau Bangka Belitung, kedua spesies ini banyak dipelihara sebagai burung master.
Saat ini di pasar burung, harga kutilang lolohan sekitar Rp 25 ribu per ekor. Jika sukses merawat hingga dewasa, dengan teknik mastering yang pas, bukan tidak mungkin burung Kutilang memiliki suara emas. (tribunjogja.com)