Cerita Seorang Pengajar di Perbatasan Papua Nugini

Di Oklib pasokan beras Bulog dari pemerintah tidak tentu datangnya, dan jika harus membeli beras harganya sangat mahal.

Penulis: Hamim Thohari | Editor: Hendy Kurniawan
Dok Pri
Suraban saat mengajar di SMP N VIII Kotaip, Distrik Oklip, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Rerimbun pohon, jajaran bukit yang tinggi, gemercik suara air mengalir dari dalam perut bumi, adalah suasana sebuah Distrik bernama Oklip yang tergambar dari cerita Suraban

Lebih lanjut dia menceritakan di setiap mata memandang terdapat petak-petak tanah yang berubah menjadi kumpulan hijau karena suburnya tanaman.

Pengelolanya adalah orang-orang tua dan bahkan anak-anak kecil yang berwajah lugu namun selalu tersenyum lepas apabila disapa.

Suraban adalah salah satu guru SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Tertinggal, Terluar, dan Terdepan) LPTK UNY yang dikirim ke provinsi ujung timur Indonesia.

Dia ditempatkan di P2 Satap SMP N VIII Kotaip, Distrik Oklip, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua bersama 3 guru SM3T lainnya.

Distrik ini merupakan distrik paling timur Papua yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Suraban dan teman-temannya merupakan angkatan ke-1 UNY yang mengirimkan peserta SM-3T ke Provinsi Papua.

Menurut warga Turi Sidorejo Ponjong Gunungkidul tersebut, minimnya informasi tentang keluarga berencana membuat sebagian masyarakat mempunyai anak yang jumlahnya lebih dari 5.

“Miris melihat bocah-bocah kecil menangis meminta makan. Disana makanan yang mudah dicari serta mudah didapat hanyalah boneng (ubi tanah) yang juga salah satu makanan pokok masyarakat setempat," ujar Suraban.

Di Oklib pasokan beras Bulog dari pemerintah tidak tentu datangnya, dan jika harus membeli beras harganya sangat mahal.

Beras dengan kualitas biasa dijual Rp. 50.000/liter, harga yang sangat mahal bagi sebagian masyarakat yang hanya bekerja sebagai petani.

Namun hal tersebut merupakan imbas dari biaya transportasi angkut barang dagangan yang cukup tinggi karena menggunakan pesawat.

Hal lain yang lebih memprihatinkan adalah tidak sedikit anak yang putus sekolah bahkan banyak anak yang tidak pernah merasakan bangku sekolah.

Alasannya karena para orang tua takut biaya sekolah mahal dan tidak cukup uang untuk membeli buku dan pulpen.

Sungguh hal yang sangat disayangkan, anak-anak yang sebenarnya mempunyai otak cerdas namun tidak dapat diasah karena tidak mendapat pendidikan seperti yang diharapkan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Tags
Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved