Menilik Desa Mi Sohun di Klaten yang Bersejarah

Sejarah Sohun di Desa Manjung, dimulai semenjak 65 tahun silam oleh Slamet Somo Suwito.

Tayang:
Editor: Hendy Kurniawan
TRIBUN JOGJA/PADHANG PRANOTO
Sohun Manjung, usaha pembuatan mi di Desa Manjung, Kecamatan Ngawen sudah dimulai semenjak 65 tahun silam. Dengan usaha tersebut, warga menggantungkan hidup. Foto : Sabtu (21/3/2015). 

Mie Sohun bagi warga Desa Manjung, Kecamatan Ngawen Klaten menjadi penopang hidup. Memasuki desa tersebut, seluas mata memandang, tampak laki-laki dan perempuan sibuk dengan mi putih yang terlihat seperti benang.

Sejarah Sohun di Desa Manjung, dimulai semenjak 65 tahun silam oleh Slamet Somo Suwito. Bahkan, untuk menghormati jasanya, ia dijuluki sebagai "Bapak Sohun".

Dikisahkan Slamet Rahayu seorang pembina Koperasi Sohun Desa Manjung, Mbah Slamet Somo Suwito pernah bekerja sebagai pembuat sohun pada seorang keturunan Tionghoa. Ia pernah bekerja selama dua tahun di Pandanrejo-Klaten, dari 1948 hingga 1950. Setelah menimba ilmu, ia kemudian berkeinginan mendirikan usahanya sendiri.

Berbekal pengetahuan sederhana dari tempatnya bekerja, Mbah Slamet pun memulai pembuatan sohun. Ia kemudian membuat alat-alat sederhana untuk mencetak adonan mi tersebut.

"Dulu alatnya belum seperti sekarang, tempat untuk menjemur pun masih berupa pelepah bambu (cumpring-Jawa). Sementara untuk cetakannya, menggunakan kaleng bekas yang dilubangi pada bagian bawahnya," ujarnya, Sabtu (21/3/2015).

Tak disangka, ujicoba yang dilakukan oleh Mbah Slamet Somo Suwito berbuah manis. Sohun buatannya dilirik pembeli. Selain itu, para warga pun lantas ikut bekerja membuat mi berwarna putih tersebut.

Kini ada sekitar 60 unit pembuatan sohun di Desa Manjung. Menurut Slamet Rahayu, tempat produksi tersebut dimiliki oleh warga setempat yang bernaung dalam koperasi.

Proses produksi Sohun di Desa Manjung pun semakin berkembang. Meskipun masih menggunakan tenaga manusia, namun alat produksi semakin canggih. Hal itu diungkapkan oleh seorang pengusaha sohun, Widi Sasongko. Menurutnya, berbagai pihak terutama akademisi telah membantu pengembangan usaha di Manjung.

"Satu di antaanya adalah pengembangan alat untuk mengaduk adonan pati dari aren. Kalau dulu masih manual, pakai tangan. Bisa dibayangkan beratnya seperti apa. Sekarang pakai bantuan hidrolis, lebih ringan. Sementara untuk pengolahan limbah, sudah ada dua instalasi pengolahannya bantuan pemerintah," tuturnya.

Sasongko memaparkan, untuk pembuatan sohun dimulai dengan pengendapan sari pati aren. Setelah dicuci hingga kurang lebih delapan sampai sepuluh kali, lantas dimasak hingga menjadi bubur kemudian dicetak.

Pencetakan sendiri menggunakan mesin pres khusus, di mana lubang hasil sohun sudah ditentukan sebesar 2,5 milimeter. Dari proses tersebut, lantas dijemur hingga benar-benar kering.

Ia mengaku pada cuaca cerah, dirinya bisa memproduksi hingga empat kuintal sohun. Namun di musim hujan, jumlah tersebut bisa berkurang drastis. Adapun untuk harga sohun, per kilogra, ia lepas ke pasaran Rp10.800 sampai Rp11 ribu. (padhang pranoto)

Sumber: Tribun Jogja
Tags
Klaten
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved