Protes Pabrik Semen, Warga Gunung Kendeng Geruduk UGM

Lahan pertanian yang subur dan ternak sudah mencukupi kehidupan warga hingga sekolahkan anak-anak mereka ke perguruan tinggi.

Tayang:
Penulis: Hamim Thohari | Editor: Hendy Kurniawan
TRIBUN JOGJA/HAMIM THOHARI
Ratusan masyarakat Gunung Kendeng yang berasal dari Rembang dan Pati mendatangi Gedung Rektorat UGM, Jumat (20/3/2015). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ratusan masyarakat yang tinggal di daerah pengunungan Kendeng Pati-Rembang Jawa Tengah mendatangi gedung pusat Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Jumat (20/3/2015). Kedatangan mereka untuk mempertanyakan kesaksian dosen UGM Yogyakarta Eko Haryono dan Heru Hendrayana di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, pada 19 Maret 2015.

"Kami datang kesini ingin mempertanyakan kepada pihak UGM tentang kesaksian dua dosen mereka yang kami rasa lebih membela kepentingan pendirian pabrik semen," ujar koordinator Jaringan Masyarat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), Gunretno.

Menurutnya pernyataan Eko Haryono yang menyatakan bahwa karst di Gunung Kendeng adalah karst muda yang bisa ditambang, dianggap masyarakat semakin memperkecil kemungkinan gugatan mereka bisa menang.

Jika sampai pabrik semen tersebut jadi dibangun, menurutnya akan ada ribuan warga yang terancam kehilangan mata pencaharian. Lebih dari ribuan warga di lereng pegunungan Kendeng bertumpu pada penghasilan sebagai petani dan peternak. Adapun sumber mata air untuk pertanian, ternak dan kebutuhan hidup sehari-hari berasal dari sumber mata air dari pegunungan Kendeng.

Lahan pertanian yang subur dan ternak sudah mencukupi kehidupan warga hingga sekolahkan anak-anak mereka ke perguruan tinggi. Ditambahkan Gun, pertambangan semen tidak akan pernah menyejahterakan masyarakat di Rembang (pegunungan Kendeng). Namun pertanian dan ternak telah membuktikan dapat menyejahterakan masyararakat dari zaman nenek moyang kami terdahulu.

"Kami mendengar kesaksian dosen UGM yang mengatakan bahwa tidak masalah menambang di kawasan karst karena tidak dilindungi. Namun faktanya kawasan karst itu menjadi daerah resapan air dan dilindungi dalam RTRW Kabupaten Rembang sebagai daerah imbuhan air," ujar Gunretno.

Yang membuat masyarakat kecewa adalah dosen UGM dianggap tidak pernah berfikir matang bahwa jika tetap dilakukan pertambangan maka sumber air akan hilang, dan mematikan sumber kehidupan dan pekerjaan ribuan warga di Desa Tegaldowo, Desa Timbrangan dan desa lainnya yang akan terdampak.

Dalam aksi yang juga diikuti oleh elemen mahasiswa tersebut, perwakilan warga sekitar Gunung Kendeng diterima oleh perwakilan UGM. Melalui wakil rektor Bidang Kerjasama dan Alumni, Paripurna P. Sugarda menyatakan akan menerjunkan tim untuk meneliti secara ilmiah permasalahan yang ada di gunung Kendeng.

"Nantinya kami akan menurunkan dosen dan mahasiswa untuk meneliti dan membuktikan secara ilmiah mengenai kondisi gunung Kendeng yang sebenarnya. Kami juga akan mengundang dosen UGM yang memberikan kesaksian untuk dimintai keterangan," ujar Paripurna.

Menurutnya apa yang menjadi pernyataan kedua dosen tersebut dalam persidangan adalah pernyataan mereka secara pribadi dan tidak ada kaitannya dengan UGM secara institusi. Kejadian ini akan dijadikan pelajaran bagi UGM untuk meminta seluruh civitas akademika UGM untuk lebih berhati-hati dalam memberikan pernyataan.

Menurutnya, UGM yang mendapatkan julukan kampus kerakyatan harus bisa berpihak terhadap kepentingan masyarakat kecil. "Dalam setiap mengeluarkan pernyataan, kami sebagai institusi pendidikan harus melandasinya dengan nilai-nilai kajian akademik. Tetapi apakah hal tersebut sesuai dengan kepentingan masyarakat luas dan kaerifan lokal," tandas Paripurna. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Tags
UGM
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved