Sehari Wowok Bisa Terima 20 Pemesanan Emban

Pengrajin perak di Kotagede juga menerima berkah dari meningkatnya permintaan emban (cincin batu akik) dari masyarakat

Penulis: Hamim Thohari | Editor: Ikrob Didik Irawan

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Mewabahnya trend batu akik di tengah masyarakat tidak hanya membawa berkah bagi para pengrajin batu akik, pengrajin perak di Kotagede juga menerima berkah dari meningkatnya permintaan emban (cincin batu akik) dari masyarakat.

Prasetyo Wibowo (48), warga Trunojayan, Kelurahan Prenggan, Kecamatan Kotagede, Yogyakarta, yang merupakan salah satu pengrajin perak tradisional mengatakan, sejak November 2014 permintaan emban meningkat drastis.

Di rumah sederhananya, saat ini setiap harinya dia menerima 10 hingga 20 pesanan emban.

"Saat jika ada yang pesan emban, harus sabar menunggu satu bulan. Jika dulu sebelum akik rame, pesanan emban bisa selasai seminggu," ungkap lelaki yang akrab disapa Wowok tersebut saat ditemui dikediaman sekaligus bengkel kerjanya.

Dalam membuat emban, Wowok masih mepertahankan cara tradisional. Pertama biji perak dilebur bersama dengan tembaga. Kemudian hasil leburan dibuat menjadi lembaran perak. Selanjutnya lembaran perak tersebut dibuat pola sesuai dengan ukuran batu akik yang akan dipasang di atas emban.

Setelah polanya terbentuk kemudian lembaran perak dipotong dan dibentuk menjadi cincin dengan cara ditempa sedikit demi sedikit. Selama ini para pelanggan yang datang ke tempat Wowok menginginkan amban yang memiliki motif

"Jika cincin tersebut telah terbentuk, kemudian saya mulai membentuk motif sesuai dengan keinginan para pelanggan. Tetapi ada juga yang pesan emban polos," ujar Wowok.

Setelah proses tersebut selesai, embam akan diamplas dan kemudian di poles menggunakan langsol agar warna aslinya perak dapat muncul. Karena proses pembuatan emban dilakukanya sendiri, dalam sehari dia hanya mampu memproduksi tiga emban bermotif.

Kebanyakan para pelanggan datang dengan membawa contoh gambar emban. Sebenarnya, banyak orang yang datang ke rumahny untuk membeli emban yang siap pakai, tetapi keterbatasan tenaga dan banyakanya pesanan, dirinya tidak bisa memproduksi stok embam siap pakai.

Walaupun saat ini permintaan terhadap emban meningkat tajam, dia tidak menaikan harga jualnya. Emban yang dia buat dijual dari harga Rp250 ribu hingga Rp750 ribu tergantung besar kecil dan tingkat kerumitanya. Menurutnya harga tersebut dia sesuaikan dengan harga baku perak.

"Saya juga tetap menjaga kualitas produk yang saya buat. Saya berani menjamin emban yang saya buat kadar peraknya diatas 95 persen," ungkapnya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Tags
Akik
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved